Zionisme dan Politik Luar Negeri Amerika Serikat di Dunia Muslim

Sebuah Catatan Singkat

Dalam pernyataan belasungkawanya atas kematian Ariel Sharon (11 Januari 2014)—mantan Perdana Menteri Israel yang juga dikenal sebagai ‘The Butcher of Shabra-Shatilla’ (Si Penjagal Shabra-Shatilla)[1]—Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyatakan, “Kami menegaskan kembali komitmen teguh kami atas keamanan Israel dan apresiasi kami atas persahabatan yang berkesinambungan diantara dua Negara dan dua bangsa.”[2]

Komitmen AS atas negara Yahudi ini bukanlah hal yang baru, tetapi merupakan komitmen yang telah ditunjukkan oleh para pemimpin AS sepanjang masa,[3] komitmen yang tidak berkurang meski dengan tampilnya Barack Obama sebagai presiden kulit hitam pertama di negeri itu. Sebaliknya, komitmen ini justeru tampak semakin menguat di bawah kepemimpinan Obama. Pada tahun 2010 misalnya, sebagaimana diungkap oleh Andro Shapiro, Asisten Menteri Luar Negeri AS pada saat itu, Di era Obama, AS telah memberikan bantuan militer terbesar sepanjang sejarah hubungan kedua negara tersebut, yaitu sebesar 30 milyar dolar AS.[4]

Mengenai fakta hubungan AS-Israel ini, Paul Findley, mantan anggota Konggres AS, mencatat,

Setiap tahun, bantuan AS untuk Israel melampaui bantuan yang diberikan pada setiap negara lain. Sejak 1987 bantuan ekonomi dan militer langsung telah berjumlah $3 milyar atau lebih. Di samping itu, pengaturan-pengaturan finansial yang dilakukan semata-mata untuk Israel mencapai kira-kira $5 milyar setahun. Ini tidak termasuk program-program yang demikian dermawannya seperti $10 milyar garansi pinjaman Israel pada 1992. Hukum Amerika memungkinkan dihentikannya semua bantuan, ekonomi, maupun militer, pada setiap negara yang mengembangkan senjata nuklir atau “terlibat dalam suatu pola konsisten untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran keras terhadap hak-hak asasi manusia yang diakui secara internasional.” Selama bertahun-tahun pemerintah AS telah mengetahui bahwa Israel mengembangkan persenjataan nuklir dan melanggar hak-hak asasi manusia secara terus-menerus. Namun Presiden dan Kongres tidak pernah sekali pun mengambil langkah untuk menghentikan bantuan, sebagaimana yang ditetapkan dalam hukum, atau bahkan menguranginya.[5]

Findley juga mengungkapkan, “Washington telah menjadikan Israel sebagai “sekutu strategis,” menetapkannya sebagai sekutu non-NATO, memberinya status perdagangan bebas, dan membiarkannya ikut serta dalam sebagian besar riset teknis paling canggih dalam Inisiatif Pertahanan Strategis AS. Itu belum semua. Amerika Serikat melindungi kepentingan-kepentingan diplomatik Israel di seluruh dunia dan terutama di Amerika Serikat.”[6]

Tidak heran jika AS menaruh perhatian yang besar atas dinamika terutama di negara-negara Timur Tengah yang bertetangga dengan Israel, dan Dunia Muslim secara umum yang dianggap mengancam negara Zionis itu karena telah merampas wilayah yang oleh Khalifah ke-dua umat Islam, Umar bin Khattab, ditetapkan sebagai “tanah wakaf” bagi seluruh umat Islam.[7]

Devide et Impera: Strategi AS di Dunia Muslim Setelah 9/11

U.S. Strategy in the Muslim World After 9/11

“In addition to the ideological differences noted above, certain divisions cut across the Muslim world and have implications for U.S. interests and strategy.” -RAND, 2004.

Satu tahun setelah invasi AS atas Irak (2003), RAND Corporation, sebuah lembaga think tank di bawah Militer AS pada tahun 2004 merilis sebuah laporan bertajuk “US Strategy in The Muslim World After 9/11,” yang merekomendasikan kepada pemerintah AS untuk memanfaatkan perbedaan ideologis serta pengelompokan yang ada di Dunia Muslim untuk kepentingan dan strategi Amerika Serikat, diantaranya dengan memanfaatkan perbedaan di antara kelompok mayoritas Sunni dengan minoritas Syi’ah.[8]

Tentu saja, perbedaan antara kelompok Sunni dan Syi’ah merupakan bagian dari sejarah yang tidak bisa dipungkiri, yang usianya mungkin hampir sama dengan umur umat Islam ini sendiri, dan sudah berlangsung sekitar 14 abad lamanya. Karena itu pula, perbedaan di dalam tubuh umat ini sudah semestinya sama-sama dimafhumi tanpa harus lagi dipersengketakan dan diperselisihkan. Ironisnya, beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan bagaimana perbedaan dan perselisihan tadi kembali mengemuka tidak hanya di negeri-negeri yang secara geografis berdekatan dan berbatasan dengan Israel seperti Irak dan Syiria, yang tentunya menjadi sasaran utama politik ‘devide et impera’ Amerika Serikat, tetapi juga di negeri kita sebagaimana kita saksikan dari begitu gencarnya berita dan propaganda yang sampai kepada kita, yang pada dasarnya lebih merupakan—sebagaimana diungkapkan oleh Timothy R. Furnish (2009), seorang konsultan bagi US Special Operations Command and Intelligence Community (Komunitas Komando Operasi Khusus dan Intelejen AS)—sebagai sebuah ‘Strategic Ideological-based PSYOP’ (Operasi Psikologis Berbasis Ideologi Strategis).[9]

Pada artikel yang pertama kali dipublikasikan dalam sebuah jurnal asosiasi operasi psikologis ini,[10] setelah menunjukkan berbagai praktek dan keberhasilan operasi psikologis dalam banyak peristiwa sejarah, Furnish kemudian menjelaskan kedudukan sekte Alawi dalam kancah politik di Syiria serta latar belakang sekte ini yang pada dasarnya merupakan perkembangan dari sekte Nusairiyah.[11] Mengutip Martin Kramer (1987), Furnish menyatakan, bahwa ikatan antara Syiria dan Iran lebih berdasarkan pada “perasaan senasib daripada seiman” (a sense of shared fate, not faith, bound these two regimes together). Dengan kata lain, aliansi yang terbangun antara pemerintah Syiria dan Iran (juga faksi Hizbullah di Libanon) lebih didasarkan pada pertemuan kepentingan politik di tengah ancaman Israel dan kepungan negara-negara Arab blok Amerika lainnya, bukan karena kesamaan keimanan sebagaimana opini yang berusaha dibangun di berbagai media, sebuah opini yang dalam perspektif PSYOP sebagaimana diajukan oleh Furnish kemudian, memang perlu dikembangkan sebagai pra-wacana yang dapat menggiring musuh-musuh AS untuk sibuk dengan konflik diantara mereka, sebelum dilancarkannya intervensi dan pencapaian kepentingan AS selanjutnya. Menurutnya, setelah menimbang berbagai skenario yang mungkin menyertai pelaksanaan PSYOP ini, keuntungan bagi AS dengan penggulingan penguasa Alawi pada Negara Levantine (Mediterania Timur) yang krusial ini adalah:

  • Memotong jalur suplai Republik Islam Iran kepada proksinya Hizbullah di Libanon, dengan demikian dapat melemahkan kelompok tersebut. Demikian pula, mengganggu atau setidaknya menghambat suplai persenjataan Iran kepada Hamas.
  • Peluang perbaikan hubungan antara Israel-Syiria, sebagai sebuah pemerintahan mayoritas Sunni tanpa harus  sibuk mempertahankan amanat keislamannya.
  • Peluang konsolidasi integritas teritorial Libanon sementara melakukan campurtangan pada saat rejim Alawi mendekati akhir.
  • Peluang perbaikan keamanan dan situasi politik lebih jauh di Irak, karena Syiria akan berhenti bekerjasama dengan Iran dalam intervensinya di sana.
  • Peningkatan popularitas AS di kalangan Sunni, terutama Arab Sunni, karena AS dapat menampilkan diri secara sah sebagai pembebas mayoritas masyarakat Sunni Syiria dari penguasa minoritas zindik.

Sebagai kesimpulan, Furnish menyatakan,

Pemerintah Amerika Serikat sementara ini belum, sejauh yang saya ketahui, berupaya secara aktif untuk mengacaukan Negara lain dengan melancarkan serangan yang mempersoalkan serta merendahkan mandat keagamaannya. Jika Negara ini serius untuk memenangkan perang terhadap terror, kita harus mengakui pada level kebijakan dan  operasional bahwa ideologi primer banyak, jika bukan terutama, mendorong teror dunia hari ini merupakan sebagian varian dari Islam; lebih lanjut, kita harus mengambil langkah-langkah yang tidak menyenangkan seperti berupaya memecah musuh-musuh kita—baik Negara maupun aktor-aktor non-negara—beserta garis keagamaan mereka. Jika kita hendak melakukannya, rejim Alawi Syiria merupakan peluang target yang tepat.

Dua tahun berselang setelah rekomendasi tadi diajukan, krisis di Syiria pada akhirnya memang terjadi. Konflik terbuka yang semula berawal dari clash antara kelompok yang loyal terhadap pemerintahan Baath dengan para demonstran yang menuntut reformasi demokratis dan ekonomi di tahun 2011 (seiring gejolak gerakan protes di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah lainnya), secara hampir mengejutkan ditampilkan di media—dan mungkin juga memang kemudian benar-benar bermutasi—menjadi konflik bernuansa sektarian antara kelompok “Sunni” dan “Syi’ah”, yang sebagaimana komplikasi dari penggulingan rezim Baath dan penggantiannya dengan rezim boneka yang didominasi kelompok Syi’ah di Irak, capaiannya sedikit-banyak sesuai, atau setidaknya, mendekati target AS di kawasan tersebut. Perkembangan terakhir dari krisis Syiria yang ditandai dengan semakin melemahnya rezim Baath dan konflik internal diantara faksi-faksi perlawanan baik antara FSA dan milisi-milisi lainnya yang dikategorikan sekuler dan secara terbuka pro-Amerika Serikat dan Israel dengan milisi-milisi Islamis, maupun konflik internal diantara kalangan Islamis itu sendiri (terutama konflik antara faksi ISIS dengan Jabhah Nushrah dan milisi-milisi lainnya) dapat menjadi sedikit gambaran bagi kita mengenai situasi terakhir di Syiria, yang pada dasarnya memang di-skenario-kan sebagai pre-text intervensi militer langsung AS dan sekutunya ke negeri itu yang kini tengah dipersiapkan.

Rekomendasi RAND dan Furnish (juga mungkin banyak kelompok konsultan serta think tank AS lainnya) sebagaimana kita lihat telah dimanifestasikan oleh pemerintah AS beserta corong media-nya secara hampir sempurna, mereka dengan cermat melihat perbedaan serta perselisihan Sunni-Syi’ah sebagai isu yang “seksi”, dan terbukti dapat membangun sentimen umat Islam, tidak hanya di kawasan yang menjadi target utama seperti Irak dan Syiria, tetapi juga sampai ke negeri yang berada di kawasan Timur Jauh seperti Indonesia, yang dalam konteks tertentu, memang menjadi wilayah perebutan kepentingan antara AS dan Negara-negara pesaingnya juga. Mengenai konflik Sunni-Syi’ah di Sampang misalnya, AC. Manulang, seorang pengamat intelejen, mengungkapkan bahwa konflik tersebut tidak terlepas dari persaingan AS dan Cina dalam memperebutkan sektor gas di Madura.[12]

Konflik Sunni-Syi’ah Hadiah Bagi Israel

Sebagaimana telah disinggung di awal tulisan ini dan kemudian dipertegas lagi dengan bukti-bukti dokumen serta skenario yang dipersiapkan AS terhadap Dunia Muslim, serangan PSYOP yang berupaya memperuncing kembali sentimen antara kelompok Sunni dan Syi’ah pada dasarnya tidak terlepas dari upaya AS untuk memperkuat dan memperluas capaian kepentingan-kepentingannya di negeri-negeri Muslim, yang pada dasarnya tidak terlepas dari kepentingan Negara Zionis Irael.

Dalam “Survey Strategis bagi Israel 2013-2014” yang dipublikasikan oleh Israel’s Institute for National Security Studies, Mayor Jenderal Amos Yadlin, seorang perwira militer Israel mendata komponen positif bagi neraca keamanan nasional Israel, diantaranya kesibukan pasukan Syiria dengan perang saudara yang mengakibatkan mereka “melemah secara drastis. Angkatan bersenjata Syiria kehilangan banyak tentara serta sejumlah besar perlengkapan, dan persenjataan kimianya dalam proses dilucuti.” Survey tersebut juga mencatat disibukkannya Hizbullah dengan peperangan di Syiria, yang diindikasikan dengan tidak adanya respon atas serangan Israel terhadap pengiriman senjata berkualitas tinggi kepada Hizbullah di Libanon dari Syiria. Hal positif lainnya, menurut survey tersebut, adalah kerusakan “signifikan” pada perekonomian Iran yang diakibatkan sanksi dan “manajemen ekonomi yang buruk” di bawah Mahmoud Ahmadinejad. Situasi ekonomi Iran ini menurutnya mempengaruhi kebijakan domestik terkait perkembangan produksi senjata nuklir mereka.[13] Capaian-capaian yang—secara tidak mengejutkan—memang bersesuaian dengan target PSYOP AS di Syiria.

Lalu bagaimana dengan perkembangan di dalam negeri kita?

Sementara sebagian kita disibukkan dengan desas-desus mengenai “ancaman” Syi’ah dan isu-isu sampingan lainnya, lobi Zionis di negeri ini melaju tanpa hambatan. Tergadainya kedaulatan pangan dan sektor lainnya negeri ini kepada korporasi-korporasi raksasa internasional yang terutama dikuasai oleh jaringan Yahudi dalam forum APEC di Bali Oktober tahun lalu (2013) atas nama globalisasi (liberalisasi) berlangsung bahkan tanpa sekedar keberatan. Berbagai kekayaan alam negeri ini yang habis dikuras berbagai korporasi asing terutama Amerika terus terjadi tanpa koreksi. Semakin terseretnya negeri ini ke dalam hutang luar negeri demi keuntungan para bankir Yahudi, sementara kehidupan umat terus terjepit. Akal dicekal, mata hati dikebiri. Tidak heran, jika menurut sebuah kabel yang dibocorkan oleh Wikileaks, Kedutaan Besar AS di Jakarta menyatakan jika mereka “tengah memenangkan perang pemikiran” di Indonesia.[14]


[1] Sabra-Shatilla, dikenal sebagai tragedi pembantaian pengungsi Palestina di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla di Beirut, Libanon pada 16-17 September 1982, yang menewaskan sekurangnya—menurut perkiraan intelejen Israel—700-800 pengungsi termasuk wanita dan anak-anak. Penyerangan ini dilakukan oleh milisi Kristen Phalangists atas seijin militer Israel yang pada saat itu dipimpin oleh Ariel Sharon sebagai Menteri Pertahanan. (http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/History/Sabra_&_Shatila.html)

[2] Sebagaimana dipublikasikan melalui situs resmi Gedung Putih, The White House, Barack Obama menyatakan, “We reaffirm our unshakable commitment to Israel’s security and our appreciation for the enduring friendship between our two countries and our two peoples.” (http://www.whitehouse.gov/the-press-office/2014/01/11/statement-president-passing-ariel-sharon)

[3] Presiden AS ke-28, Thomas Woodrow Wilson misalnya saja menyatakan dengan lugas, “Dalam semangat dan inti Konstitusi kita, pengaruh Persemakmuran Ibrani paling tinggi. Ia tidak hanya menjadi ototirtas tertinggi soal prinsip berontak terhadap tirani adalah kepatuhan kepada Tuhan namun juga karena Persemakmuran Ibrani menjadi patokan abadi bagi demokrasi murni, berbeda dari monarki, aristokrasi, dan segala bentuk pemerintahan lainnya.” (Merdeka.com, Label Zionis di Gedung Putih:Komitmen pro-Israel sepanjang masa, [http://www.merdeka.com/khas/label-zionis-di-gedung-putihkomitmen-pro-israel-sepanjang-masa-.html])

[5] Paul Findley, Diplomasi Munafik ala Yahudi Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel, 1995 (http://media.isnet.org/antar/Munafik/BantuanAS.html)

[6] ibid

[7] Istilah Palestina adalah tanah waqaf pertama kali diucapkan oleh Amirul-mukminin Umar bin Al-Khattab radhiallau ‘anhu, tatkala beliau datang ke negeri itu untuk menerima penyerahan kunci Baitul Maqdis dari pemimpin tertinggi umat kristiani sedunia. Setelah sebelumnya umat Islam berhasil menembus negeri para nabi itu dan menaklukkannya dari kekuasaan umat kristiani. (Ahmad Sarwat, Lc. 2006 [http://www.eramuslim.com/umum/palestina-bumi-waqaf.htm])

[8] U.S. Strategy in the Muslim World After 9/11, RAND Corporation, 2004.

[9] Timothy R. Furnish, Divide and Confound—or Divide and Empower? The Opportunities and Dangers of Strategic PSYOP against the Alawi Rulers of Syria, 2009 (http://hnn.us/article/119266)

[10] Perspectives: The Journal of the Psychological Operations Association, XX, 2, (2009), pp. 1, 6-19

[11] Menurut catatan Furnish (2009), pada tahun 1924, Muhammad Amin Ghalib Tawil, seorang Alawi, menerbitkan Tarikh al-`Alawiyin [Sejarah Alawi], sebuah karya yang bertujuan untuk mempopulerkan para Alawi sebagai Syi’ah Imamiah—label bagi Syi’ah di Iran, Irak dan Libanon—yang pada kenyataannya baru setelah penerbitan buku tadi istilah ‘Alawi’ menggantikan ‘Nusayri’, sebuah sekte yang doktrinnya bertentangan dengan Islam dengan mempertuhan Imam Ali Al-Hadi, Imam Syi’ah ke-10, yang justeru menolak kepercayaan semacam itu. Penggantian penamaan ini pun pada prakteknya tidak turut mengubah kepercayaan lama para Alawi tadi, yang di kalangan Muslim dikenal juga sebagai sekte ‘Syi’ah Ghulat’, sebuah sempalan Syi’ah yang bahkan bagi kalangan mainstream Syi’ah sendiri pun sudah dianggap keluar dari keislaman. Terlebih, Bashar Assad secara ideologis adalah seorang Ba’athist, Sosialisme-Arab yang diusung oleh ayahnya—Hafez Al-Assad—bersama Saddam Husein (mantan Presiden Irak yang dijatuhkan dan dihukum mati menyusul invasi AS ke negeri itu).

[12] Indonesia Today, Persaingan Cina-AS, Picu Konflik Sampang (http://www.itoday.co.id/politik/persaingan-cina-as-sebabkan-konflik-sampang)

[13] Al-Akhbar, Israel Welcomes Sunni-Shia Conflict (http://english.al-akhbar.com/node/18438)

[14] The Jakarta Post, US feels it is ‘winning war of ideas’ in RI (http://www.thejakartapost.com/news/2011/09/07/us-feels-it-%E2%80%98winning-war-ideas%E2%80%99-ri.html)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s