Seni, ruang bebas syahwat?

“Tubuh telanjang tidak selalu menjadikan pelihatnya terangsang. Tari telanjang pun juga tak selalu berkutat dalam bingkai erotis pemancing syahwat. Dalam konteks ini, Amour, acide, et noix (2001) dari Daniel Léveillé Danse (Kanada) menjadi contohnya. Penampilan mereka dalam Festival Salihara Keempat Selasa (09/10) lalu memukau 230-an penonton di Teater Salihara.”

Demikian penjelasan Komunitas Salihara mengenai pementasan striptease (tari telanjang) yang digelar komunitas tersebut 9 Oktober tahun 2012 yang lalu. Doktrin bahwa kesenian dan para seniman berada di wilayah bebas-syahwat sebagaimana tampak dalam apologi Komunitas Salihara tampaknya merupakan argumentasi standar kalangan seni liberal dan industri untuk menjustifikasi setiap bentuk kesenian ataupun komoditas industri hiburan lainnya yang mengeksploitasi tubuh.

Eksploitasi tubuh dan sensualitas atas nama seni yang menjadi komoditas industri hiburan (seni tari, peran, fotografi, periklanan, dll.) di ruang publik dianggap tidak memiliki implikasi sosial apapun bagi masyarakat. Kritisisme atas eksploitasi ini justru dicibir sebagai bentuk ketertutupan—bahkan—kemunafikan. Dalam sebuah diskusi di SCTV, Myra Diarsih, seorang aktivis feminisme, bahkan mengatakan; ”Soal porno itu soal persepsi, kalau sejak awal otaknya ngeres, melihat apa-apa bisa porno”. Pernyataan ini disambut Dani Dewa (penyanyi kelompok Band Dewa), menurutnya; ”Kalau saya melihat tarian Inul, itu biasa saja, kalau yang lain selalu ngeres ya porno”.

Demikianlah, seni ditahbiskan sebagai sesuatu yang berada di ruang bebas nilai—bebas syahwat, sehingga respon negatif atas apapun yang oleh industri dilabeli sebagai kesenian mesti berasal dari sikap negatif individu itu sendiri, dan bukan sebagai efek dari apa yang memang dengan sengaja ditampilkan dan dieksploitasi oleh industri hiburan di ruang publik.

Benarkah?

Benarkah, misalnya saja, eksploitasi sensualitas dalam seni fotografi  mesti tidak berpengaruh terhadap penikmatnya, atau setidaknya mereka yang mengerti seni fotografi, yang sudah sangat terbiasa melihat ketelanjangan, kecantikan, kemolekan tubuh sebagai bagian dari seni? Seorang fotografer senior dalam suatu wawancara salah satu stasiun beberapa waktu lalu menjawab, “bohong kalau fotografer tidak terangsang dengan model telanjang, kalau memang begitu, Darwis Triadi tidak akan menikahi modelnya.”

Kebohongan berlanjut, berita mengenai pelecehan seksual yang menimpa seorang mahasiswi UI yang melibatkan Sitok Sunarto alias Sitok Sringenge, penyair kondang dari Komunitas Salihara menjadi bukti telanjang jika seniman bukanlah makhluk yang bebas-syahwat sebagaimana biasa diklaim. Kebohongan ini bahkan berusaha ditutupi oleh sebagian media. Kompas memberitakan korban sebagai “TTM” (Teman Tapi Mesra), sebuah istilah yang seolah ingin memberi gambaran latar belakang hubungan korban dengan Sitok sehingga terjadi pelecehan seksual tersebut. Tempo.co, media yang dipimpin oleh Goenawan Mohamad, rekan Sitok di Salihara, bahkan memberitakan klarifikasi Sitok yang menyebut eksploitasi dan pelecehan seksual tersebut terjadi atas dasar suka sama suka.

Jika demikian, benarkah otak para seniman tidak ngeres, siapakah yang munafik? dan bisakah para seniman beserta produk kesenian mereka tetap ditahbiskan berada di ruang bebas nilai tanpa tanggungjawab sosial akan komoditas syahwat yang mereka jajakan di ruang publik?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s