Mandela, Perjalanan menuju kebebasan yang masih panjang

"We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians; without the resolution of conflicts in East Timor, the Sudan and other parts of the world." - Nelson Mandela

“We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians; without the resolution of conflicts in East Timor, the Sudan and other parts of the world.” – Nelson Mandela

“Aku telah menjalani jalan panjang menuju kebebasan. Aku telah berusaha untuk tidak goyah; aku membuat beberapa salah langkah di sepanjang perjalanan. Tetapi aku telah menemukan rahasianya setelah mendaki bukit tinggi, bahwa seseorang hanya akan menemukan lebih banyak bukit untuk didaki.”

(Nelson Mandela, Long Walk to Freedom, 1995)

Mandela kini telah pergi. Di usia 95 tahun, pejuang anti-apartheid ini meninggal di tengah keluarganya setelah sakit yang lama dideritanya, Kamis 5 Desember kemarin.

Ungkapan dukacita mengalir dari berbagai pemimpin negara. Dalam pernyataan belasungkawanya, Presiden Amerika Barrack Obama menyebutnya sebagai manusia yang “berpengaruh, berani dan memiliki kebaikan yang mendalam.” Ungkapan yang menunjukkan besarnya pengaruh Mandela dalam membentuk kembali sejarah Afrika Selatan dan dunia, sekaligus kemunafikan para pemimpin dunia terhadap perjuangan Nelson Mandela melawan sistem apartheid dan penindasan.

Sementara mereka seolah menyanjung figur Mandela, Obama dan banyak pemimpin dunia lainnya tanpa malu-malu terus mendukung sistem apartheid Israel di Palestina, drama tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di atas panggung dunia selama tidak kurang dari setengah abad, pemerkosaan atas kebebasan yang pada dasarnya tetap menjadi kegelisahan bagi Mandela, meski perjuangannya melawan sistem apartheid di Afrika Selatan telah mencapai kemenangan.

“Kita telah terlalu mengetahui bahwa kebebasan kita tidak lengkap tanpa kebebasan bangsa Palestina,” tegas Mandela saat menjadi tuan rumah Hari Internasional Solidaritas Bangsa Palestina 4 Desember 1997 di Pretoria, Afrika Selatan. Semangat yang juga mengalir dalam darah para pemuda Afrika Selatan ketika mereka menyatakan “Kami mengenali apartheid saat kami melihatnya.” Pernyataan yang mereka tegaskan dalam menolak kunjungan Israel di kampus-kampus Afrika Selatan, April 2011 yang lalu.

“Israel’s similarity to South Africa’s apartheid is more than skin-deep.” – The National

Mengikuti jejak Gandhi, Mandela mengutamakan jalan damai dalam perjuangannya melawan sistem apartheid yang diberlakukan rezim kulit putih di Afrika Selatan. Pilihan yang kadang dieksploitasi oleh kaum penindas dan agen-agen mereka untuk melanggengkan penindasan dengan memarjinalisasi perlawanan bersenjata dan mengidentikkannya dengan kekerasan atau teror. Padahal sebagaimana Gandhi, Mandela tetap melihat bahwa perlawanan bersenjata tetap diperlukan dalam perjuangan kebebasan.

“Gandhi tetap berkomitmen pada perjuangan tanpa kekerasan [nonviolence]; saya mengikuti strategi Gandhian selama saya mampu, tetapi ada titik dalam perjuangan kami ketika kekuatan brutal penindas tidak lagi bisa dihadapi dengan perlawanan pasif semata-mata. Meskipun kami memilih sabotase karena (taktik) ini tidak melibatkan kehilangan nyawa, dan ini menawarkan harapan terbaik bagi hubungan ras di masa depan. Aksi militan menjadi bagian agenda Afrika yang secara resmi didukung Organization of African Unity ( O.A.U.) mengikuti pernyataan saya terhadap Pan-African Freedom Movement of East and Central Africa (PAFMECA) di tahun 1962, yang di dalamnya saya nyatakan, “Kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dapat didengar oleh imperialis, dan tidak ada negara yang merdeka tanpa semacam kekerasan.”

Gandhi sendiri tidak pernah mengesampingkan kekerasan secara mutlak dan terang-terangan. Dia mengakui kebutuhan persenjataan dalam situasi tertentu. Menurutnya, “Disaat pilihannya antara kepengecutan dan kekerasan, Aku akan menyarankan kekerasan… Aku lebih memilih menggunakan senjata untuk membela kehormatan daripada tetap menjadi saksi keji kekejaman.”

(Nelson Mandela, The Sacred Warrior, TIME, 31 Desember 1999)

Mandela kini telah tiada, tetapi semangatnya akan tetap mengilhami mereka yang merindukan pembebasan dan kemerdekaan, tanpa mencampuradukkannya dengan pasivisme dan kepura-puraan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s