Kondom, antara urat dan utang

condom-money

Sejak “bis kondom merah” berfoto Jupe berkeliaran di kampus dan membagi-bagi kondom dalam rangkaian Pekan Kondom Nasional (1-7 Desember), banyak pihak angkat bicara, Okky Asokawati, anggota DPR-RI dari PPP mengkritik program yang digagas Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi ini “misleading dan tidak terarah, alias serampangan.” Tidak hanya itu, Okky juga mencurigai jika Pekan Kondom ini hanya dijadikan ajang berbisnis. Poempida Hidayatullah, politisi partai Golkar, bahkan mengkhawatirkan adanya kepentingan asing yang bermain dalam kebijakan ini. Meski mendapat banyak kritik, Nafsiah bersikukuh jika program kondomisasi bertujuan untuk mengurangi penularan virus HIV, padahal, bukti-bukti ilmiah menunjukkan jika kondom 100 persen tidak aman.

Dengan sejumlah kritik dan bukti tidak efektifnya kondomisasi seperti itu, kenapa Bu Menkes masih tetap ngotot? Padahal biaya Pekan Kondom Nasional terbilang cukup besar, menelan anggaran negara sebesar Rp 25.2 Milyar, meski Nafsiah membantah jika anggaran itu merupakan anggaran Pekan Kondom, tetapi untuk BKBBN. Kemenkes mengaku sumber dana pembagian kondom “gratis” berasal dari Global Fund, lembaga keuangan internasional yang menjadi perantara “bantuan” lembaga dan negara donor dengan negara penerima dalam mengatasi AIDS, Tuberculosis dan Malaria.[1]

Kondom dan utang

Sebagai tahap pertama program debt equity swap (pengalihan utang)[2], Indonesia telah membayar 3 juta euro ($7.76 juta Dolar AS) kepada Jerman melalui program pemberantasan AIDS, tuberculosis (TB) serta malaria, dan pengelolaannya dilakukan oleh Global Fund,[3] yang Ketua Dewan-nya dijabat oleh Menkes Nafsiah Mboi sejak Juni lalu.[4]

Di sinilah kondom mulai tersangkut, program Debt 2 Health yang dikelola oleh Global Fund terkait dengan implementasi Millennium Development Goals (MDGs)[5], yang salah satu indikatornya adalah memasyarakatkan penggunaan kondom.[6] Negara-negara kreditur menjadikan debt swaps, seperti yang diberikan Jerman kepada Indonesia, sebagai salah satu instrumen pembiayaan MDGs. Karena itu, proyek kondomisasi pada dasarnya merupakan upaya pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan, untuk membayar utang kepada negara kreditor dengan berusaha memenuhi berbagai indikator pencapaian tujuan-tujuan MDGs sebagai bagian dari debt equity swap.

Keengganan pemerintah untuk bersikap terbuka kepada masyarakat mengenai latar belakang sesungguhnya dari proyek kondomisasi ini sudah menjadi bukti tersendiri jika proyek ini sejak awal tidak melibatkan juga tidak diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat, dan semata-mata proyek kejar setoran pemerintah untuk memenuhi tuntutan negara kreditor dan agen-agennya. Pemberian istilah “pembagian kondom gratis” dan pernyataan bahwa proyek ini semata-mata dibiayai oleh Global Fund dengan tidak menjelaskan konteksnya secara utuh sebagai mekanisme pembayaran utang pemerintah juga merupakan bentuk penyesatan informasi, karena pada dasarnya kondom yang dibagikan tidak gratis dan dibayar dengan konsesi-konsesi yang dilakukan di luar sepengetahuan masyarakat.

Utang apa, utang siapa? Ini merupakan masalah lainnya. Selain prosentase pengalihan yang sangat kecil dibanding nilai utang keseluruhan, sehingga diragukan efektivitasnya dalam mengatasi masalah ketergantungan utang negara debitur, mekanisme debt swaps juga tidak mempertimbangkan relevansi hutang-hutang yang dialihkan sehingga ditenggarai dapat digunakan sebagai alat pencucian utang-utang yang tidak sah [illegitimate debt] yang pada dasarnya tidak berhubungan dengan program pembangunan.[7] Debt swaps juga sesungguhnya lebih menguntungkan negara kreditur dan pengelolanya dengan berbagai syarat serta konsesi yang mengikat negara penerima “bantuan”,[8] terlebih jika pengalihan ini dengan disertai syarat pembelian produk dari negara kreditur yang biasanya sudah di-mark up harganya.[9] Apalagi, kriteria utama Paris Club yang harus dipenuhi oleh negara debitor untuk mendapatkan debt swap adalah masih terikatnya negara tersebut dengan program IMF, dengan demikian mekanisme ini tampak tidak lebih dari upaya negara-negara kreditur dan lembaga-lembaga keuangan untuk mempertahankan pengaruh mereka atas negara penerima “bantuan”.[10]

Dampak dari praktek ini bagi masyarakat semakin bertambah ketika ternyata implementasinya berupa pemborosan anggaran, dengan memborong kondom untuk dibagi secara bebas sebagai “solusi zina sehat dan aman”, tanpa memperhatikan keberatan publik atas efektivitas dan kepatutannya.

Kondom dan urat

Selain kedudukan Nafsiah Mboi sebagai Ketua Dewan Global Fund, proyek kondomisasi menjadi semakin tampak sarat kepentingan dengan keberadaan Bill Gates. Bos Microsoft yang merupakan salah seorang investor awal Global Fund ini[11], November lalu memberi hadiah sebesar $100,000 Dolar Amerika kepada ilmuwan yang berhasil menciptakan kondom dari urat tendon sapi dalam kompetisi yang dia adakan untuk menemukan “kondom generasi masa depan.”

Dengan proyek kondomisasi yang dimasyarakatkan melalui MDGs, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga seluruh dunia, tidak heran jika terkait kegandrungannya dalam berinvestasi dalam proyek-proyek kondomisasi ini, Bill Gates menyatakan, “Ini adalah investasi tercerdas yang pernah diciptakan dunia.”[12]


[2] Debt swap atau debt conversion dilakukan dengan cara penjualan hutang oleh kreditor kepada investor  (non-profit organisation) yang membeli hutang tersebut dengan diskon dan mengalihkannya kepada negara terhutang dengan harga yang memungkinkan untuk mendapatkan margin keuntungan. Pengalihan ini dapat berupa bagian (saham) di perusahaan lokal atau valuta lokal yang diarahkan untuk membiayai proyek pembangunan baik secara langsung atau melalui counterpart fundix. (Marta Ruiz, Debt swaps for Development: Creative Solution of Smoke Screen?, EURODAD Report, 2007, hal. 6)

[5] Atas ajuan PBB, pada tahun 1991 klausul debt swaps mulai diperkenalkan Paris Club untuk apa yang mereka sebut dengan ‘investasi sosial’ [social investment], yang oleh negara-negara anggotanya kemudian digunakan juga sebagai salah satu instrumen pembiayaan program Millennium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan PBB pada tahun 2000.

[6] Proyek kondomisasi merupakan bagian dari pemenuhan Tujuan 6: Combat HIV/AIDS, malaria and other desease; Indikator 6.2 Condom use at last high-risk sex.  (http://mdgs.un.org/unsd/mdg/Host.aspx?Content=Indicators/OfficialList.htm)

[7] Ruiz, op. cit., hal. 9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s