Bilderberg Club, wajah baru konspirasi purba

Bilderberg Hotel di Belanda, lokasi konfrensi pertama Bilderberg Club di tahun 1954. Credit: Wikipedia/Michiel1972

Sebagai lobi internasional elit penguasa Eropa dan Amerika tertinggi, nama Bilderberg Meetings atau yang lebih dikenal dengan Bilderberg club memang tidak setenar IMF, Bank Dunia, atau para pemimpin negara-negara Eropa dan Amerika Utara yang menjadi anggotanya, tetapi kelompok elit—yang oleh jurnalis investigatif asal Brazil, Pepe Escobar, dijuluki “Sang Penguasa Alam”—ini dipercaya “mampu mengendalikan kebijakan internasional dari balik ruangan tertutup; sebuah ‘kelompok diskusi’ para politisi, akademik dan raja bisnis,” atau lebih tegas lagi, dalam definisi Escobar, “sebuah masyarakat rahasia (secret society) kapitalis yang bekerja atas dasar kepentingan pribadi dan merancang plot penguasaan dunia.”

Bilderbeg club didirikan pada tahun 1954 dan dirancang sebagai pertemuan tahunan rahasia (atau dalam istilah mereka, “off-the-record discussions”) antara para pemimpin politik, kalangan industri, keuangan, akademik, dan media dari Eropa dan Amerika Utara. Pertemuan ke-61 diselenggarakan tahun ini (6-9 Juni 2013) di Hertfordshire Inggris. Seperti biasa, pertemuan ini juga dihadiri para pemimpin politik Eropa dan Amerika Utara, bahkan tidak ketinggalan, Executive Chairman Google Inc, Eric E. Schmidt.

Konfrensi Bilderberg pada awalnya diadakan di Hotel de Bilderberg di Oosterbeek, Belanda, pada tanggal 29 sampai Mei 1954. Pertemuan ini diinisiasi oleh beberapa orang, termasuk politisi Polandia di pengasingan Józef Retinger, yang menurut Alden Hatch (1962), karena keprihatinan akan tumbuhnya sikap anti-Amerikanisme di Eropa Barat, dan mengusulkan adanya konfrensi internasional dimana para pemimpin Eropa dan Amerika Serikat duduk bersama untuk mendorong Atlantisisme – saling pemahaman yang lebih baik antara kebudayaan Amerika Serikat dan Eropa Barat dalam memelihara kerjasama politik, ekonomi, dan masalah pertahanan.

Menurut keterangan Daniel Estulin, jurnalis investigatif juga penulis dua buku best-selling mengenai Bilderberg, yang dikutip The Independent (04/07/2010) menekankan bahwa “Bilderderberg Club bukanlah konspirasi klasik, tetapi pertemuan pemikiran dengan tujuan yang sama dan berpotensi berbahaya: yaitu memusatkan kekuasaan ekonomi global untuk menguntungkan korporasi-korporasi.” Kelompok yang dia definisikan sebagai “jaring laba-laba virtual kepentingan keuangan, politik dan industri yang saling berpautan.” Tapi berbeda dengan Escobar, menurut Estulin Bilderberg bukanlah masyarakat rahasia, tetapi lebih merupakan ideologi.

Donald Henry Rumsfeld is an American politician and businessman. Rumsfeld served as the 13th Secretary of Defense from 1975 to 1977 under President Gerald Ford, and as the 21st Secretary of Defense from 2001 to 2006 under President George W. Bush. Wikipedia

Masyarakat rahasia atau bukan, pertemuan para pejabat publik dengan bankir, pengusaha, akademisi dan media yang tidak diungkap secara terbuka kepada publik tetap mengundang tanda tanya. Michael Meacher, mantan Menteri Lingkungan Inggris dari Partai Buruh, menyatakan bahwa “lembaga tersebut tertutup, dan publik berhak mengetahui apa yang sedang terjadi” (The Telegraph, 6 Juni 2013).  Dalam artikel “The master of the universe” yang dipublikasikan Asia Times 22 Mei 2003, Pepe Escobar mengungkapkan bahwa bagi banyak elit keuangan dan bisnis, Bilderberg club dianggap sebagai majelis tinggi para pemimpin pendeta kapitalisme. Sekretaris Pertahanan AS saat itu Donald Rumsfeld dan “Pangeran Kegelapan” Richard Perle dikabarkan turut hadir dalam acara yang digelar 15 Mei sampai dengan 18 Mei 2003 di Trianon Palace Hotel, dekat istana Versailles yang megah tidak jauh dari Paris.

Keanggotaan Bilderberg club ditentukan oleh “panitia pengarah” misterius yang merancang daftar undangan terseleksi dengan maksimal 100 nama. Lokasi pertemuan tahunan mereka tidak benar-benar rahasia: mereka bahkan memiliki kantor pusat di Leiden, Belanda. Tetapi pelaksanaan pertemuannya sendiri dilaksanakan sepenuhnya rahasia. Peserta dan tamu sangat jarang menghadiri acara tersebut secara terbuka. Keamanan mereka dilaksanakan oleh intelejen militer. Tetapi apa yang sebenarnya dituju oleh kelompok rahasia ini? Tentu saja mereka melakukan pembicaraan dan lobi-lobi. Mereka berusaha untuk memperbesar lagi kekuasaan politik mereka yang sudah sangat besar, di masing-masing sisi Atlantik. Dan semuanya mengikrarkan kerahasiaan mutlak atas apa yang mereka diskusikan.

Bilderberg club terdiri dari para bankir pusat, ahli pertahanan, penguasa pers, menteri-menteri pemerintahan, keluarga kerajaan, para pemimpin keuangan dan politik internasional dari Eropa dan Amerika. Tamu yang hadir tahun ini (2003) bersama Rumsfeld dan Perle (Deputi Sekretaris Pertahanan AS Paul Wolfowitz juga merupakan anggota) diantaranya David Rockefeller, sebagaimana keluarga Rockefeller lainnya, Henry Kissinger, Ratu Beatrix dari Belanda, Ratu Sofia dan Raja Juan Carlos dari Spanyol, dan pejabat tinggi dari banyak pemerintahan, kecuali yang berasal dari Asia, Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika.

Chart ini menunjukkan koneksi anggota Bilderberg dengan sejumlah besar perusahaan, lembaga amal, pengambil kebijakan, dan media. Nama-nama tenar mulai dari Eric Schmidt sampai George Soros merupakan anggotanya. Credit: Business Insider

Chart ini menunjukkan koneksi anggota Bilderberg dengan sejumlah besar perusahaan, lembaga amal, pengambil kebijakan, dan media. Nama-nama tenar mulai dari Eric Schmidt sampai George Soros merupakan anggotanya. Credit: Business Insider

Beberapa pakar strategi kebijakan keuangan dan kebijakan luar negeri Barat terkemuka menghadiri Bilderberg, yang dalam pandangan mereka, untuk menyempurnakan dan memperkuat konsensus virtual, sebuah ilusi bahwa globalisasi, yang dalam term mereka – apa yang baik bagi perbankan dan perusahaan besar adalah juga baik bagi masyarakat lainnya – tidak terhindarkan dan untuk kebaikan yang lebih besar bagi umat manusia. Jika mereka memiliki agenda tersembunyi, adalah fakta bahwa konsentrasi kekayaan dan kekuasaan yang menakjubkan benar-benar tidak berhubungan dengan penjelasan mereka kepada para tamu bahwa globalisasi menguntungkan 6.2 milyar manusia. Beberapa tamu Bilderberg club sebelumnya kini telah menjadi pemain-pemain penting dalam percaturan ekonomi-politik dunia. Bill Clinton di tahun 1991 dan Tony Blair di tahun 1993 diundang dan “disetujui” terlebih dahulu oleh Bilderberg sebelum mereka menjabat. Ada banyak hal yang masih belum bisa dijelaskan mengenai hubungan Bilderberg club awal dan Nazi, melalui Prince Bernhard of the Netherlands, ayah Ratu Beatrix, yang mendirikan klub tersebut di Bilderberg pada tahun 1954 dengan tujuan “meningkatkan saling pengertian antara Eropa dan Amerika Utara.” Bernhard merupakan anggota SS Adolf Hitler. Pendiri lain Bilderberg adalah Otto Wolff von Amerongen – yang sangat aktif memperbaiki hubungan bisnis antara Jerman dengan blok Soviet dan menjabat pada 26 dewan direktur, termasuk Deutsche Bank. Sedikit orang yang mengenal dia – dan mungkin untuk alasan yang baik: dia terkait dengan pencurian Nazi atas kepemilikan Yahudi sebelum dan sesudah Perang Dunia II.

Rumsfeld adalah anggota aktif Bilderberg. Begitu pula Jendral Peter Sutherland dari Irlandia, mantan komisioner Uni Eropa dan chairman Goldman Sachs dan BP. Rumsfeld dan Sutherland sama-sama menjabat dewan perusahaan energi Swiss ABB pada tahun 2000. Dan ABB diketahui pernah menjual dua reaktor nuklir light-water (LWR) kepada Korea Utara. Tentu saja, pada waktu itu Korea Utara belum dikelompokkan kedalam “axis of evil.”

Tahun 2003, pertemuan Bilderberg di Versailles digabungkan kedalam pertemuan menteri keuangan G8 19 Mei di Paris, yang hanya berjarak 20 menit dari Versailles. Prosedurnya biasa: apa yang menjadi wacana di Bilderberg biasanya menjadi preview akan apa yang kemudian didiskusikan pada pertemuan G8, yang pada tahun 2003 diselenggarakan tanggal 1 sampai 3 Juni di Evian-les-Bains di French Alps.

Pada hari pertama pertemuan tanggal 15 Mei, Presiden Perancis Jacques Chirac menyampaikan pidato sambutan, berusaha mengubur perbedaan diantara para tamu mengenai perang atas Irak dengan menekankan bahwa AS dan Eropa Barat adalah sekutu lama. Tetapi sambutan Chirac yang ramah tidak cukup menenangkan kelompok the hawks di pemerintahan AS yang masih jengkel atas sikap ‘pasifis’ Perancis pada perang tersebut.

Seorang bankir Yahudi Eropa yang berpengaruh mengungkapkan bahwa elit penguasa Eropa mengatakan kepada kaki tangan mereka jika Barat berada di ambang krisis keuangan total; maka satu-satunya jalan menyelamatkan investasi berharga mereka adalah mengadu peruntungan pada krisis global baru di Timur Tengah, yang akan menggantikan krisis yang berkembang di tengah Perang Dingin.

Menurut sebuah sumber perbankan di Kota London yang terhubung dengan Versailles, yang menjadi tampak dari pertemuan di tahun 2003 adalah bahwa para Bilderberger Amerika dan Eropa tidak benar-benar berhasil mengatasi perpecahan mereka atas invasi dan pendudukan Amerika atas Irak, sebagaimana kebijakan garis keras Perdana Menteri Ariel Sharon terhadap Palestina. Sementara para Bilderberger terus mengoceh, Sharon menolak mentah-mentah rancangan road map Timur Tengah, yang sudah disetujui oleh anggota lain quartet: PBB, Uni Eropa dan Rusia. Road map ini, sebagaimana terlihat, telah berakhir: bahkan kehadiran Sekretaris Negara AS Collin Powell – yang mampir di Versailles untuk memberi penjelasan singkat kepada peserta Bilderberg – tidak cukup bisa membujuk Sharon untuk sekedar mencabut pendudukan Israel di wilayah Palestina.

Petualangan imperial Amerika biasanya dibicarakan berulang-ulang di pertemuan Bilderberg. Para elit Eropa menentang invasi Amerika atas Irak sejak pertemuan Bilderberg 2002 di Chantilly, Virginia. Rumsfeld sendiri pada saat itu berjanji jika serangan tersebut tidak akan terjadi. Pada saat pertemuan Bilderberg 2003, semua orang kembali menyerang Rumsfeld, mempertanyakan isu “senjata pemusnah massal”. Kebanyakan elit Eropa tidak mempercayai janji Amerika bahwa minyak Irak akan “menguntungkan masyarakat Irak.” Mereka mengetahui jika penghasilan minyak Irak akan digunakan untuk membangun apa yang telah dibom oleh Amerika. Dan perdebatan seru masih berlangsung mengenai kontrak macam apa yang akan dihadiahkan Bechtel dan Halliburton yang “menguntungkan” Eropa Barat.

Elit Eropa, menurut mereka yang dekat dengan Bilderberg, mencurigai jika AS bahkan tidak menginginkan pemerintah pusat yang stabil dan sah di Irak. Saat hal itu terjadi, tidak ada lagi alasan bagi AS untuk tetap tinggal di negeri itu. Para elit Eropa melihat bahwa AS sedang membangun alasan “facts on the ground”: membangun kehadiran jangka panjang militer dan memastikan aliran minyak berada di bawah kontrol AS kembali. Proses ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun, selama Amerika bisa menjamin layanan pokok yang cukup untuk mencegah rakyat Irak melakukan perang pembebasan nasional.

Pertemuan Versailles sangat sulit membangun konsensus pada kebutuhan pasukan Uni Eropa untuk benar-benar independen dari North Atlantic Treaty Organization (NATO). Tentu saja pemerintah AS tidak menyetujui keberadaan pasukan Uni Eropa. Demikian juga beberapa orang dari kalangan Eropa sendiri, seperti pendukung gagasan anti-pasukan Lord Robertson, yang merupakan Sekjen NATO. Para elit Eropa tidak tahan lagi dengan dominasi AS di NATO. Beberapa pihak dari Eropa mengusulkan angkatan yang terpisah, tetapi masih berada dibawah kontrol NATO. Pihak Amerika beralasan bahwa angkatan UE yang terpisah akan menghilangkan peran NATO sebagai pasukan dunia PBB. Dan Amerika bersikukuh bahwa NATO tidak lagi terbatas pada pertahanan Eropa: para prajuritnya dapat pergi kemanapun di dunia, diarahkan ataupun tidak oleh Dewan Keamanan PBB. Kebuntuan mengenai masalah ini masih berlanjut.

Perkembangan-perkembangan krusial ini diperbincangkan di balik ruangan tertutup. The Trianon Palace Hotel di Versailles tertutup bagi umum dan semua tamu non-Bilderberg harus check-out. Karyawan paruh-waktu dipulangkan. Satu-satunya yang masih tinggal di hotel mengatakan bahwa mereka akan dipecat jika diketahui mengungkap apapun mengenai pertemuan tersebut. Mereka tidak boleh berbicara kepada para peserta Bilderberg kecuali mereka diajak bicara. Mereka tidak boleh menatap siapapun langsung pada matanya. Para penjaga bersenjata benar-benar mengisolasi dan mengepung hotel tersebut. Beberapa perusahaan pers Amerika ada di sana – tetapi publik tidak akan pernah mengetahuinya: berita Bilderberg tidak cocok untuk dicetak atau disiarkan media yang dikontrol oleh taipan multinasional Bilderberg seperti Rupert Murdoch, atau tidak akan diperbolehkan melaporkannya. Seandainya ada yang bisa menyusup kedalam sekalipun. Mereka harus siap berurusan dengan para elit.

Sumber:
Sebagian besar diambil dari uraian:
Pepe Escobar, “The Roving Eye, The masters of the Universe”, Asia Times, 22 Mei 2003.
Dengan tambahan keterangan dari:
Anita Brooks, “What are the Bilderberg Group really doing in Spain?”, The Independent, 13 November 2013.
Josie Ensor and Matthew Holehouse, “Bilderberg 2013, the world’s most secretive conference: live”, The Telegraph, 6 Juni 2013.
The Official Website: Bilderberg Meetings.
Wikipedia, Bilderberg Group.
Ashley Lutz, “This Chart Shows The Bilderberg Group’s Connection To Everything in the World,” Business Insider, 12 Juni 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s