John Perkins: Ideologi Islam vs Imperialisme Amerika

Reporter: Jika saya tidak salah ingat, anda pergi bersama seorang penduduk lokal di sana (Indonesia) yang membawa anda bertemu dengan orang-orang yang tinggal di sana. Dan mereka menentang apa yang anda lakukan secara terbuka dalam pembicaraan tertentu.

John Perkins: Ya benar. Saya selalu menyukai banyak orang, dan pada awalnya saya ingin menjadi seorang jurnalis.

Seseorang di sana, di Indonesia, pemuda ini, bernama Razi. Saya tinggal di rumah yang sama bersamanya. Dia tinggal di sebuah guesthouse, ibunya yang menyewakan guesthouse tempat Tim kami tinggal. Dia mengenalkanku kepada banyak temannya, dan saya sangat menyukai bersama mereka. Saya belajar bahasa Indonesia cukup baik pada saat itu. Karena itu saya menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Mereka cukup radikal, ada banyak bagian di buku ini (Confession of an Economic Hitman) yang mengulas serangkaian pengalaman saya bersama mereka; tentang pertunjukan wayang, sikap politik mereka, kemarahan mereka atas apa yang kita lakukan di Vietnam, dan saya setuju dengan pandangan mereka.

Suatu ketika mereka mengajak saya ke salah satu bagian kota yang sangat indah di Bandung, Jawa Barat. Kami memang bekerja di Jakarta dan Bandung, saya juga sering berpergian di Indonesia. Saya selalu merasa heran dengan banyak orang asing lainnya di sana yang tidak bergaul dengan masyarakat Indonesia. Orang-orang asing di perusahaan lainnya dan juga orang-orang asing di Tim saya, kebanyakan hanya bergaul di klub-klub pribadi dan restoran-restoran mahal, tapi sangat jarang bergaul dengan masyarakat Indonesia sendiri. Tetapi saya mencoba bergaul dengan mereka, dan saya sangat menikmatinya.

Mereka banyak bertanya kepada saya, dan mereka menunjukkan bahwa Arnold Toynbee, seorang sejarawan besar Inggris, pada tahun 1954 telah menulis sebuah buku berjudul Civilization on Trial (Ujian Atas Peradaban), yang mengatakan bahwa di masa yang akan datang, masyarakat Muslim akan menjadi ancaman terbesar bagi Kapitalisme. Di tahun 1954-an dia telah mengatakan bahwa Komunisme bukanlah merupakan ancaman utama, karena ideologi ini tidak cukup spiritual, tidak berdasarkan pada prinsip-prinsip yang kuat. Sedangkan sebuah kebudayaan akan berhasil, dia harus benar-benar prinsipil.

Arnold Toynbee juga memprediksi kematian Kapitalisme, keruntuhan Barat, karena menurutnya kitapun tidak memiliki prinsip-prinsip itu, sedangkan Dunia Islam akan bangkit karena mereka memiliki keyakinan dan spiritualitas yang kuat. Mereka (masyarakat Muslim) tidak mempercayai riba, mereka tidak mempercayai bunga pinjaman. Kaum muda Muslim ini mengatakan kepada saya, “kalian berada dalam masalah,” mereka telah mengatakannya sejak tahun 1970-an, “Dunia Islam sedang memperhatikan kalian dan kami tidak suka yang kami lihat.” Apa yang mereka katakan adalah peringatan yang sangat menakjubkan, jika anda melihat apa yang sedang terjadi di dunia saat ini. Kaum Muslim menjadi sangat kuat dan sangat marah kepada kita. Dan ini tidak hanya tentang agama, karena jiwa agama kaum Muslim bukanlah agama yang penuh kemarahan, Islam adalah agama yang penuh kasih. Tetapi mereka menjadi sangat marah karena mereka melihat kita pada dasarnya sedang memperkosa dunia mereka, menghancurkannya.

“Jiwa agama kaum Muslim bukanlah agama yang penuh kemarahan, Islam adalah agama yang penuh kasih. Tetapi mereka menjadi sangat marah karena mereka melihat kita pada dasarnya sedang memperkosa dunia mereka, menghancurkannya.”

America, the Consumer.  Foto: SustainableThought.org

America, the Consumer.
Foto: SustainableThought.org

Para pemuda tadi juga selalu menunjukkan berbagai statistika kepada saya. Kita sendiri punya angka-angka yang selalu kita gunakan di negeri ini (AS), bahwa 5% dari populasi dunia, yaitu kita, populasi Amerika, mengkonsumsi 25% dari sumberdaya dunia, dan ini sangat mengganggu masyarakat dunia lainnya. Kita seperti gurita raksasa yang mencengkram semuanya lalu selayaknya Santa Claus membagi-bagikannya kepada kita (warga AS) dan lihatlah kebohongan yang kita jalani ini, sementara 3/4 dunia hidup dalam kemelaratan. Setiap hari 24.000 orang mati karena kelaparan dan 30.000 anak mati karena wabah penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan, setiap hari. Juga banyak orang yang tinggal di wilayah-wilayah yang penuh kemarahan, dan mereka melihat kita 5% populasi dunia meraup 25% dari sumberdaya mereka, sementara kebanyakan mereka sendiri hidup dalam kehidupan yang tragis, melarat, memprihatinkan dan menderita. Dan menurut saya, angka statistik yang lebih penting lagi adalah bahwa dari 5% populasi itu, tidak lebih dari 1% nya menguasai lebih banyak sumberdaya Amerika daripada 99% yang berada di bawah (piramida masyarakat). Jadi pada kenyataanya, 25% dari sumberdaya dunia yang diraup ke negeri ini dinikmati hanya oleh 1% dari 5% populasi dunia. Ini bukan lagi sebuah piramida, tetapi lebih seperti jarum yang mengarah ke atas dengan sedikit orang yang sangat berkuasa duduk di atas. Kenyataan ini telah menciptakan dendam yang luar biasa di seluruh dunia, inilah yang telah menciptakan ketidakamanan bagi kita (masyarakat AS).

“Setiap hari 24.000 orang mati karena kelaparan dan 30.000 anak mati karena wabah penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan, setiap hari. Juga banyak orang yang tinggal di wilayah-wilayah yang penuh kemarahan, dan mereka melihat kita 5% populasi dunia meraup 25% dari sumberdaya mereka, sementara kebanyakan mereka sendiri hidup dalam kehidupan yang tragis, melarat, memprihatinkan dan menderita.”

Saya pikir kita tidak akan pernah merasa aman di negeri ini, tak peduli berapa banyak penjaga yang kita punya di bandara udara kita, sehingga kita memutuskan untuk lebih peduli dengan masyarakat dunia lainnya. Inilah hal besar yang harus kita lakukan yang akan membawa keamanan yang kita butuhkan, saat kita lebih membuka diri kita kepada dunia, dan menyambut masyarakat dunia lainnya sebagai saudara, yang ingin kita berbagi bersama.

Dan di masa-masa itu pada saat saya di Indonesia, kaum muda Islam yang sangat saya sayangi itu, dan saya bekerja bersama mereka, telah melihat semua ini dan berusaha mengantisipasinya, mereka juga memperingatkan saya. Sayangnya, harta, tahta dan wanita datang dan menggoda saya, dan ya pada saat itu saya memang tergoda (untuk meneruskan pekerjaan sebagai Economic Hitman).

*John Perkins (b. January 28, 1945 in Hanover, New Hampshire) is an economist and author. He was a Peace Corps Volunteer in Ecuador from 1968-1970 and this experience launched him in the world of economics and writing. His best known book is Confessions of an Economic Hit Man (2004), an insider’s account of the exploitation or neo-colonization of Third World countries by what Perkins describes as a cabal of corporations, banks, and the United States government. His 2007 book, The Secret History of the American Empire, provides more evidence of the negative impact of global corporations on the economies and ecologies of poor countries, as well as offering suggestions for making corporations behave more like good citizens.

Perkins also wrote an introduction to the 2007 book A Game as Old as Empire: the Secret World of Economic Hit Men and the Web of Global Corruption (edited by Steven Hiatt), a collection of accounts from investigators, journalists and other economic hitmen. The book offers further evidence of economic hit men and rebuts some of the criticism that Perkin’s book Confessions of an Economic Hit Man received.http://en.wikipedia.org/wiki/John_Perkins_%28author%29

**Disarikan dari wawancara John Perkins, “Talking Sticks”. Video selengkapnya bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=yTbdnNgqfs8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s