Sistem Dajjal

Meskipun kata “Dajjal“—dari bahasa Arab artinya “menipu”, “mencurangi” atau “melumuri dengan ter”—tidak tercantum dalam Qur’an, namun Dajjal dirinci dengan jelas dalam semua kitab-kitab hadits utama, termasuk dalam kitab hadits-hadits shahih yang masyhur dari Imam al-Bukhari dan Imam Muslim (terutama pada bab-bab mengenai saat-saat menjelang kiamat), juga di dalam kitab-kitab hadits lain seperti Mishkat al-Masabih, Riyadush Shalihin dan al-Muwwafa’ dari Imam Malik :

Abdullah bin ‘Umar ra. mengabarkan: “Nabi Muhammad saw. berdiri dan berkata pada umatnya, setelah memuji Allah yang Maha Agung dan Maha Terpuji, beliau bersabda mengenai Dajjal, ‘Aku memperingatkan kalian dari dia, tak seorang nabi pun yang tidak memperingatkan umatnya dari dia, bahkan Nabi Nuh telah memperingatkan umatnya dari dia. Tapi aku akan mengabarkan sesuatu yang belum pernah disampaikan oleh Nabi mana pun sebelum aku: Hendaklah kalian tahu bahwa Dajjal itu bermata satu, dan Allah tidak bermata satu.’” (diriwayatkan oleh Muslim).

Simbol ‘Mata Satu’ telah digunakan oleh berbagai kepercayaan dan kelompok sejak era paganisme kuno hingga paganisme modern, antara lain sebagai lambang Dewa Ra, Horus, The Eye of Providence [All Seeing Eye], Freemasonry, Illuminati, “Novus Ordo Seclorum” sebagaimana tertera pada lembar satu dollar AS, dll.

Illustrasi: Simbol “Eye of Providence” (The all seeing eye atau Eye of Horus) pada lembar satu Dollar AS.

Simbol ‘Mata Satu’ telah digunakan oleh berbagai kepercayaan dan kelompok sejak era paganisme kuno hingga paganisme modern, antara lain sebagai lambang Dewa Ra, Horus, The Eye of Providence [All Seeing Eye], Freemasonry, Illuminati, “Novus Ordo Seclorum” sebagaimana tertera pada lembar satu dollar AS, dll.

Dajjal memiliki tiga sisi. Dajjal sebagai oknum. Dajjal sebagai gejala sosial budaya global. Dajjal sebagai kekuatan gaib.

Dengan mengamati bagaimana-perubahan-perubahan yang terjadi pada keadaan sosial budaya dunia, terutama di abad ini, dan dengan mengamati bagaimana cara hidup masa kini, maka kita bisa memperoleh bukti dari alam nyata—yaitu alam yang bisa ditangkap oleh panca indera kita—bahwa pengambilalihan telah dan sedang terjadi. Dengan kata lain, kita dapat mengenali ciri-ciri Dajjal sebagai kekuatan gaib, dengan meneliti Dajjal sebagai gejala sosial budaya global.

Jelaslah bahwa sistem kafir dan kafirun yang menguasai dan meyakini sistem itu, tidak lain adalah perwujudan Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan Dajjal sebagai kekuatan gaib. Sedangkan si Dajjal sendiri akan menjadi puncak penjelmaan dari sistem kafir, gembongnya kafir, maka tak pelak ketika muncul dia akan dinobatkan sebagai pemimpin sistem kafir oleh para kafirun yang menjalankannya. Nabi Muhammad saw bersabda bahwa kufr adalah sebuah sistem. Sistem kafir adalah Dajjal. Maka nyatalah bahwa ketiga sisi Dajjal itu berkaitan dan bersenyawa Dajjal.

Begitu pula halnya dengan Mahdi, ketika datang ia akan menjadi puncak penjelmaan Islam, yaitu jalannya Nabi Muhammad, tetapi harus segera diingat bahwa ia dibanding Nabi Muhammad saw adalah seumpama setetes air dibanding samudera. Dengan demikian, tak pelak lagi Mahdi akan dikenali dan diterima sebagai pemimpin oleh seluruh Muslim sejati. Nabi Muhammad bersabda bahwa seluruh Muslimin adalah satu tubuh.

Kufr memerangi Islam, Islam memerangi Kufr. Sudah jelas dari hadits bahwa Dajjal akan melawan Mahdi. Mahdi akan melawan Dajjal. Nabi ‘Isa as, yang tak disalib tetapi digaibkan oleh Allah dari dunia ini—dan seseorang yang mirip dengan beliau disalib menggantikannya—ketika turun lagi ke bumi ini, akan membinasakan Dajjal beserta seluruh pengikutnya.

Sistem Dajjal

Apabila kita kaji sisi Dajjal sebagai gejala sosial -budaya global, kita akan saksikan bahwa pengambilalihan sedang berjalan lancar, nampaknya saat kemunculan si Dajjal sudah sangat dekat, alasannya sangat sederhana: karena sistem-sistem dan para pengurusnya, yaitu sistem kafir; sistem Dajjal, telah memperoleh kekuasaan yang cukup di seluruh dunia, sehingga begitu si Dajjal dikenali dan diakui, Dajjal bisa langsung dinobatkan sebagai pimpinan yang dinanti-nanti.

Dalam seratus tahun terakhir, telah terjadi perubahan-perubahan yang sangat luar biasa di muka bumi. Pengelompokan sosial yang biasa berlaku di seluruh dunia, yaitu masyarakat berpola pedesaan, yang terbentuk dari keluarga-keluarga yang saling mengenal dan saling membantu—baik di antara warganya maupun antar pedesaan—kini dengan pesatnya telah terkikis dan kehilangan sifatnya. Kini, di kota-kota besar, setiap insan semakin terkucil dari jati dirinya, dari manusia di sekitarnya, dan dari pengenalan kepada Allah. Mereka sekedar menjadi sebuah roda gigi yang sibuk dalam proses produsen-konsumen, yang apabila tidak sedang bekerja atau tidur, mereka hampir selalu terjebak dalam pencapaian fatamorgana pemuasan diri yang kekanak-kanakan dan tak ada habisnya, ini menjamin bahwa manusia tidak akan punya banyak waktu untuk merenung dan bercermin tentang dari mana dan akan kemana dia, juga tak ada waktu untuk mencoba membebaskan diri dari jeratan rutinitas kehidupan yang membelitnya.

Walaupun ukuran pengelompokan sosial yang ada sekarang sebesar masyarakat pedesaan, transaksi sosial antar warganya sudah tidak sehangat dan seerat dahulu. Kini, semakin kurang waktu untuk saling bertemu dan semakin banyak waktu tersita televisi. Semakin sedikit waktu untuk bekerja bersama dan semakin banyak waktu untuk bekerja sendirian. Bagi mereka yang dilahirkan dalam keadaan seperti ini, perubahan sosial ini tidak begitu kentara. Seolah-olah semua berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana digambarkan film THX 1138.

Mungkin satu-satunya cara untuk memahami betapa dahsyatnya perubahan yang telah terjadi, adalah dengan mengamati apa yang terjadi ketika sebuah perusahaan multinasional memutuskan untuk mulai menjarah sumber daya alam dari suatu daerah yang sebelumnya terpencil. Dalam waktu yang cukup singkat, kegiatan para pengatur perusahaan tersebut tidak hanya mengacaukan cara hidup masyarakat asli daerah itu, tapi juga memusnahkan sumber-sumber penghidupan tradisional mereka, dan dengan demikian menjamin pasokan tenaga kerja murah untuk mengerjakan berbagai kegiatan perusahaan multinasional itu. Mendadak semua orang dinomori dan mengejar sesuatu yang namanya uang, dan terenggutlah keselarasan sosial yang pernah ada sebelum datangnya pertambangan, atau ladang minyak, atau penebangan hutan, atau pendirian pabrik, atau pembangkit listrik tenaga air, atau apa pun juga. *

*Gambaran singkat mengenai realitas ini tercermin dalam sebuah animasi yang mengilustrasikan uraian John Perkins mengenai bagaimana perusahaan-perusahaan multinasional dari negara maju menjarah kekayaan alam negara berkembang dan menjajah penduduknya, atau apa yang disebutnya sebagai “Mutant Capitalism“. [-Red.]

Semuanya dilaksanakan atas nama kemajuan, pemberadaban masyarakat terbelakang, atau demi peningkatan mutu kehidupan, namun, pada hakikatnya gaya hidup baru itu pasti terkait dengan teknologi baru, dan pasti juga terkait dengan pelecehan pada ilmu hakiki, yang para kafir sebut sebagai pendidikan dan melek huruf itu. Semuanya merupakan tanda terkikisnya atau berakhirnya transaksi kemanusiaan yang sejati di daerah tersebut. Adapun penduduk asli yang tidak bisa dipakai, akan sengaja digusur atau dibasmi dengan aneka penyakit menular atau virus-virus baru, yang mereka belum miliki penolak alaminya.

Sebuah perubahan perilaku sosial lainnya yang cukup berarti, dan jelas berkaitan dengan meningkatnya otomatisasi di suatu kelompok sosial, adalah bahwa dahulu keutuhan suatu masyarakat dibina dengan peribadatan kepada Tuhan, kini unsur pengikat yang mendasar itu sudah semakin berkurang. Di dunia Barat, pola peribadatan yang menonjol adalah pola agama Kristen—sebuah agama ganjil hasil percampuran dari gagasan-gagasan Paulus sendiri, filsafat Yunani, pembaharuan yang mengada-ada atas peran kerahiban—dalam rangka berusaha keras untuk selaras dengan para penguasa kafir dan dengan sedikit serpihan-serpihan ajaran asli Nabi ‘Isa as. Karena pola peribadatan ini berbeda dengan cara asli yang diamalkan Nabi ‘Isa dan para pengikutnya, maka pola ibadat ini belum pernah, tidak mampu dan tidak akan mampu mencapai hakikat kehidupan maupun membimbing kepada pengenalan Allah.

Tak pelak lagi ini memastikan bahwa khalayak akan terus mencampakkan pola ibadat ini—si kafir menolak karena memang dia tidak punya hasrat untuk menyembah Allah, dan para penganut setia menolak karena menyadari bahwa agama bermerek Kristen yang ditawarkan itu, hanya sedikit pertautannya dengan ajaran asli Nabi ‘Isa, dan tidak berpijak kepada cara hidup Nabi ‘Isa dan kaumnya, juga tidak akan membimbingnya mengenal Allah.

Adapun hal yang mempermudah khalayak bercerai dengan pola peribadatan Kristen, adalah karena terjadinya pemilah-milahan di masyarakat barat akibat kebangkitan cara hidup seperti mesin, yang konon disebut “revolusi industri“. Maka hidup tanpa peribadatan lebih disukai daripada menganut pola ibadat yang walaupun dikemas atas nama Nabi ‘Isa, namun nyatanya tidak sesuai dengan pola ibadat asli Nabi ‘Isa – yang sebenarnya sudah punah untuk selamanya.

Yang menarik, karena begitu banyak ajaran dasar Kristen bukan saja merupakan hasil rekayasa manusia, tapi juga terang-terangan bertentangan dengan apa yang telah diajarkan Nabi ‘Isa, dan juga karena begitu banyak upacara Gereja Trinitas yang diambil dari sumber-sumber selain dari gaya hidup Nabi ‘Isa dan kaumnya, maka ada beberapa penulis barat yang menyamakan Gereja Trinitas Resmi – beserta aneka perwujudannya – dengan si AntiKristus itu sendiri.

Pandangan itu diperkuat dengan bukti bahwa para jagoan Gereja Trinitas Resmi-lah—yaitu Katolik Roma dan Protestan—yang pada beberapa abad yang lalu menyulut peperangan dan membasmi semua Kristen Unitarian—seperti kaum Nazarenes, Ebitiones, Donatist, Arians, Adoptionists, Paulicians, Ilumnists, Catharii, dan banyak suku-suku Goth—padahal merekalah yang sebenarnya mengikuti ajaran asli dan jalan hidup Nabi ‘Isa as. Dengan Inkuisisi Jaman Pertengahan dan dilanjutkan dengan Inkuisisi Spanyol, Gereja Trinitas berhasil membasmi semua Kristen Unitarian tersebut, termasuk sebilangan besar kaum Yahudi Unitarian di Eropa. Selanjutnya, Gereja Trinitas Resmi mengalihkan usaha pembasmiannya kepada semua umat Unitarian pengikut Nabi Muhammad, yaitu kaum Muslimin, dan walaupun upaya ini belum sepenuhnya berhasil, proyek ini masih terus digalang hingga kini.

Sejak dahulu hingga kini, tingkat keberhasilan yang dicapai Gereja Trinitas Resmi dalam gerakan pembasmian itu, hanya bisa tercapai karena mereka selalu bersekongkol dengan sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, sistem yang telah dan senantiasa bertekad untuk menyesatkan dan memusnahkan pengamalan Islam yang hidup dan dinamis. Dari temuan ini, dan karena kubu “Sains” dan Kristen Trinitas bergantung pada dan menopang sistem yang sama, maka nyatalah bahwa pertentangan apapun yang nampak antara keduanya hanyalah khayalan belaka dan tentu hanya di permukaan saja. Jelaslah perlu segera dibedakan dengan tegas antara para Kristen Trinitas yang tahu bahwa jalan yang mereka anut bukanlah jalannya Nabi ‘Isa as, dengan mereka yang penuh ketulusan ingin menyembah Tuhan – namun telah disesatkan hingga percaya bahwa merek Kristen yang mereka anut itu sesuai dengan ajaran asli Nabi ‘Isa, dan mereka pun sampai saat ini belum sempat mengenal transaksi kehidupan Islam sejati: yaitu jalan hidup kenabian bagi jaman ini, yang sebenarnya sangat mirip dengan jalan hidup Nabi ‘Isa dan para pengikutnya ra.

Apa yang baru diuraikan tentang Kristen juga berlaku pada kaum Yahudi. Kini mereka yang mengaku Yahudi, nyata-nyata tidak mengikuti jalan Nabi Musa as, bahkan sejumlah besar Yahudi terang-terangan mengaku bukan berasal dari keturunan Bani Israel – yaitu suku bangsa yang khusus kepada mereka Nabi Musa dan Nabi ‘Isa diutus. Salah satu moyang para Yahudi yang bukan Yahudi itu, adalah kaum Khazar, aslinya mereka adalah bangsa kecil yang tinggal di wilayah yang kini menjadi Turki dan Rusia Selatan; pada pertengahan abad kedelapan, pemimpin mereka yang bernama Raja Joseph memeluk agama Yahudi sebagai muslihat politik, agar terhindar dari penjajahan Kristen yang datang dari utara, dan terhindar dari dakwah Islam yang datang dari selatan. Raja Joseph paham betul bahwa muslihatnya itu akan mendatangkan perlindungan yang layak dari sesama penyembah Tuhan.

Kini keturunan-keturunan Khazar yang biasa disebut juga sebagai bangsa Ashkenazim, telah tersebar di seluruh dunia, dan mereka diakui keahliannya di bidang seni dan dalam transaksi-transaksi bisnis dan keuangan. Cara hidup mereka bukanlah cara hidup yang diamalkan Nabi Musa as dan para pengikutnya ra. Cara hidup Nabi Musa as telah punah ketika Nabi ‘Isa as diturunkan. Perlu diingat bahwa Nabi ‘Isa diutus untuk menegakkan kembali cara hidup Musa di kalangan bani Israel, dan bukan untuk membuat perubahan walau cuma sehuruf. Namun nyatanya, para penulis kitab dan para rabi di masa itu – yaitu kependetaan yang menobatkan dirinya sendiri dalam apa yang kemudian menjadi “agama Yahudi” – bahkan tidak bisa mengenali siapa Nabi ‘Isa as, hal ini menunjukkan betapa jauhnya para Yahudi itu tersesat dari ajaran asli Nabi Musa, padahal itu terjadi duapuluh abad yang lalu.

Terkadang disebut juga sebagai “suku Israel yang ketiga-belas”, beberapa ahli sejarah mengaitkan para keturunan Khazar ini dengan salah satu dari empat tanda kiamat yang utama, yaitu kemunculan Yajuj wa Majuj, atau Gog dan Magog, karena mereka hakikatnya adalah “Yahudi yang bukan Yahudi”. Kaitan ini lebih diperkuat dengan pernyataan Raja Joseph pada tahun 9602, yang menyatakan bahwa bangsa Khazar adalah keturunan Togarma, cucu dari Japheth, putera Nabi Nuh – yang menurut Kitab Kejadian 10:2-3 – paman Togarma itu bernama Magog. Jika ini benar, maka jelaslah keturunan Khazar terkait erat dengan kemunculan Dajjal, karena kebanyakan dari mereka kini memegang tampuk-tampuk kekuasaan penting dalam aneka sistem terkait yang berpadu menjadi sistem kafir, yaitu sistem Dajjal.

Ada pula pihak-pihak yang sangat berhasrat untuk menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Kristen dan Yahudi, juga berlaku pada Muslim, dan bahwa banyak yang mengaku sebagai “Muslim” .tetapi tidak mengikuti jalannya Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Ini ada benarya, dan ini merupakan sebagian bukti keberhasilan yang dinikmati Kristen dan Yahudi dalam usaha mereka untuk menyesatkan dan membasmi siapa saja yang telah atau sedang mencari jalan hidup Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya ra.

Salah satu metoda pemungkas yang digunakan sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, dalam menghapus cara hidup Islam, adalah dengan menanamkan cara hidup kafir ke negeri-negeri Muslim, sembari disamarkan dengan peristilahan yang “islami”. Kini hampir semua wilayah-wilayah yang dahulu dihuni oleh Muslim, telah dikuasai dan diperintah berdasarkan asas-asas sistem kafir dan tidak sesuai dengan kandungan Qur’an dan Sunnah. Meskipun Rasulullah saw pernah bersabda bahwa nanti sebagian Muslim akan mengikuti cara hidup para pendahulunya – yaitu Kristen dan Yahudi – secepat kadal kabur ke liangnya, namun beliau juga bersabda bahwa tidak semua umatnya akan tersesat. Kini masih banyak Muslim yang mengikuti pola kehidupan Rasulullah saw dan pola kehidupan masyarakat Muslim pertama yang terbentuk di sekeliling beliau, Yang penting adalah, walau terdapat sejumlah Muslim yang menyimpang dari jalan Nabi Muhammad, setidaknya jalan hidup itu masih terpelihara bagi mereka yang ingin mengamalkannya, dan setidaknya masih ada mereka yang mengamalkan jalan hidup itu. Perbedaan yang telak di antara kaum Yahudi, Kristen dengan Muslim adalah: kaum Yahudi tidak lagi mengetahui dan tidak mengamalkan ibadatnya Nabi Musa, kaum Kristen tidak lagi mengetahui dan tidak mengamalkan ibadatnya Nabi ‘Isa, sedangkan Muslim masih mengetahui dan masih mengamalkan ibadatnya Nabi Muhammad saw.

Jalan hidup Nabi Musa as dan Nabi ‘Isa as telah punah. Sebagai gantinya, direkayasa dan diproklamasikanlah agama Yahudi dan agama Kristen. Agama-agama buatan ini merupakan senyawa dari sistem kafir, yaitu sistem Dajjal. Sistem Dajjal sangat bertolak-belakang dengan jalan hidup Kenabian; yaitu jalan hidup yang tidak saja diwujudkan oleh Nabi Musa as, Nabi ‘Isa as, dan Nabi Muhammad saw, bahkan diwujudkan pula oleh seluruh Nabi sejak Nabi Adam as hingga ke seratus dua puluh empat ribu Nabi lainnya, semoga Allah memberkati dan menyejahterakan mereka semua.

Di dunia ini terdapat tiga macam pola dasar pengelompokan sosial, Ada masyarakat sederhana yang hidup sesuai fitrah, yang selaras dengan alam namun tidak mengikuti pola peribadatan Kenabian kepada Allah. Lalu ada masyarakat muslim, yang hidup selaras dengan alam sekaligus menyembah Allah dengan cara yang ditunjukkanNya melalui nabi Muhammad saw. Dan yang terakhir ialah masyarakat kafir, yang hidup tidak selaras dengan alam dan dengan sengaja tidak menyembah Allah. Pada Hakikatnya, pasti setiap atom diletakkan pada tempatnya, dan keselarasan seluruh alam semesta dengan fasihnya menyatakan Keagungan dan Keindahan dari Yang Mengadakan dan Yang Meniadakan, Yang Esa, yaitu Allah.

Terutama di abad ini, kita telah menyaksikan bagaimana pola hidup yang dianut oleh masyarakat kecil sesuai fitrah dan yang dianut oleh masyarakat Muslim, dikikis dan dirusak dengan seksama oleh merebaknya sistem kafir, yaitu sistem Dajjal. Untuk memahami ciri-ciri sistem ini, yang secara lahir adalah perwujudan Dajjal sebagai gejala sosial budaya global, dan secara batin adalah perwujudan Dajjal sebagai kekuatan gaib, maka kita perlu memeriksa sistem Dajjal dengan lebih rinci.

Apabila kita kaji bagaimana sistem pemerintahan di negara kafir saat ini, kita akan menemukan bahwa pengaturan dan pengendalian dilakukan dengan cara yang sangat terpusat dan semakin terkomputerisasi. Dengan kemajuan teknologi – terutama di bidang komunikasi dan transportasi, bersama-sama dengan penggunaan sistem komputer canggih guna penyimpanan dan pengambilan informasi – maka pengendalian yang meluas dari satu tempat jadi kenyataan.

Kini sebagian besar negara kafir adalah police state. Dibanding dengan keadaan seratus tahun yang lalu, maka kini tingkat pengawasan dan pengendalian yang dilaksanakan pemerintah-pemerintah atas rakyat-rakyatnya sangatlah menakjubkan, dan sebagian besar pengendalian itu dicapai dengan bentuk-bentuk pekerjaan yang tersedia dalam sebuah masyarakat industri masa kini.

Jelaslah bahwa kini bentuk usaha yang paling umum adalah perusahaan besar, baik milik swasta maupun pemerintah, perusahaan-perusahaan semacam ini biasa memiliki cabang-cabang yang tersebar tidak hanya di satu negara, tapi juga tersebar di banyak benua, bahkan di seluruh jagat. Siapa saja yang bekerja pada perusahaan semacam itu akan dikendalikan oleh tata tertib perusahaannya. Dalam kehidupan mereka sehari-hari, para pekerja secara bertahap semakin diwajibkan untuk menjunjung tinggi aturan perusahaan di atas akal sehat dan kemanusiaan. Bahkan sebuah perusahaan pribadi maupun usaha kecil diatur dengan ketat tentang apa yang boleh dan tak boleh dilakukannya. Semua orang selalu diajarkan bahwa aturan-aturan ini dibuat demi kebaikan mereka sendiri, namun mereka tak pernah diberi kesempatan untuk melihat apa jadinya kehidupan ini bila aturan-aturan ini tak ada.

Tidaklah mengherankan bila di negara kafir ditemukan bahwa mereka yang mengendalikan pemerintahan biasanya juga mengendalikan perusahaan-perusahaan besar. Kaum elit penguasa kafir mengendalikan sistem hukum kafir, yang digunakan untuk mengatur semua sub-sistem yang saling berkaitan dalam sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, dengan menentukan bentuk usaha apa yang diijinkan, serta tata-tertib apa yang harus ditaati para pekerjanya. Ini berarti bahwa kehidupan di negara kafir itu sangat dilembagakan, dibakukan dan diatur. Kini, pengelompokan masyarakat yang paling umum berpusar pada pekerjaan. Bentuk organisasinya bagaikan piramida. Cara pengaturannya fir’auni. Ini memungkinkan yang sedikit mengatur dan memperbudak yang banyak, seringkali tanpa yang banyak menyadari betapa besar derajat pengendalian yang menimpa mereka. Semua lembaga-lembaga kafir dijalankan demi menangguk untung semata, apakah itu sistem hukumnya, sistem pemerintahannya, sistem industrinya, sistem universitasnya, sistem rumah sakitnya, sistem media massanya, maupun sistem-sistem lainnya.

Piramida Masyarakat Fir'auni

Piramida Masyarakat Fir’auni

Piramida Struktur Freemasonry

Piramida Struktur Freemasonry

Piramida Masyarakat Kapitalis

Piramida Masyarakat Kapitalis

Semua lembaga-lembaga itu dipersiapkan demi kemujaraban pelaksanaan proses produsen konsumen: inilah agama yang paling berpengaruh saat ini dan menjerat banyak manusia dengan milyaran aturannya yang dikendalikan oleh hirarki para pakarnya. Semua pihak yang kini menguasai negara-negara kafir yang katanya modern itu senantiasa menyanjung proses produsen-konsumen sebagai jalan hidup yang ideal. Ini sama sekali tidak mengherankan, karena dengan kelangsungan proses produsen-konsumen, merekalah yang paling diuntungkan dan yang paling banyak mendapat ganjaran keuangan. Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa ketika mendirikan proses produsen-konsumen di tempat yang katanya negara dunia ketiga atau negara sedang berkembang itu, para penjajah selalu mengacaukan cara hidup yang dijalani penduduk asli. Pendekatan dasarnya selalu sama, masyarakat dirayu untuk menghasilkan lebih dari yang mereka butuhkan. Untuk mencapai maksud ini mereka harus dirayu agar bekerja lebih lama, dan kaum wanitanya diyakinkan bahwa mereka akan mencapai emansipasi, bila mereka meninggalkan rumah guna bekerja di pabrik seharian penuh. Agar pekerjaan bisa menjadi suatu tawaran yang menggiurkan, masyarakat dijanjikan uang, namun jumlahnya hanya cukup untuk membuat mereka tergantung pada uang hingga mereka harus terus bekerja untuk mendapatkannya, karena penghasilan mereka tak akan pernah bersisa untuk ditabung. Agar uang kelihatan berharga, masyarakat dirayu untuk menginginkan produk-produk yang tidak pernah mereka butuhkan sebelumnya, bahkan banyak yang sebenarnya tidak diperlukan. Sekali masyarakat berhasil dipancing minatnya, mereka harus mencari uang untuk membelinya, berarti mereka harus bekerja untuk mendapat uangnya. Maka dalam waktu yang sekejap saja, sejumlah besar masyarakat bisa dibujuk untuk menanggalkan cara hidup sebelumnya, guna membuat produk-produk yang mereka telah dipancing meminatinya, demi upah untuk membelinya.

*’The New Rulers of The World‘, sebuah film dokumenter karya jurnalis independent John Pilger dengan cermat menggambarkan tata dunia global saat ini sebagaimana digambarkan Ahmad Thomson di atas. Dengan mengambil contoh kasus Indonesia, Pilger menunjukkan bagaimana Globalisasi yang direkayasa oleh sekelompok kecil pengusaha kaya (melalui berbagai agennya seperti IMF, Bank Dunia, WTO, APEC, dll. serta instrumen-instrumen seperti AFTA, NAFTA, dll.) mengendalikan dan menguasai perekonomian dunia, dan mengakibatkan kesenjangan yang luar biasa antara si kaya dan si miskin, sebuah tata dunia baru yang dikuasai segelintir orang kaya dan dibangun di atas penghisapan terhadap si miskin. -Red.

Pola itu lebih diperkuat dengan disusupkannya mekanisme hutang. Semua orang digalakkan untuk menginginkan bahkan membutuhkan uang yang melebihi penghasilannya, sehingga mereka harus meminjam kekurangannya. Begitu berhutang, maka mereka akan ketagihan dan terjebak. Istilah “ambil sekarang, bayar belakangan”, bagi sebagian besar orang biasanya berarti: “sekali anda berhutang, anda akan terus berusaha melunasinya seumur hidup”. Memang, perangkap bunga majemuk (compound Interest) adalah jerat yang teramat ganas.

Tentu ada saja yang walaupun telah terbujuk untuk menghendaki harta-benda, mereka tidak bisa mendapat pekerjaan atau tidak mau dipusingkan untuk mendapat pekerjaan. Mereka malah memilih kejahatan. Bagi para penguasa kafir, keadaan ini adalah alasan yang ideal untuk menegakkan sistem hukum mereka, yang melindungi namun sekaligus meningkatkan pengendalian atas para pekerja. Keadaan ini juga menciptakan tambahan lahan kerja, baik bagi mereka yang diperlukan untuk menjalankan sistem hukum kafir – yaitu para birokrat dan para pegawai kantornya – dan juga bagi mereka yang membangun gedung-gedung perkantoran, gedung-gedung pengadilan dan penjara-penjaranya – yang digunakan untuk menangani siapa pun yang tidak mau ikut permainan produsen konsumen. Tentu saja semua denda-denda yang berhasil dikumpulkan proses peradilan, tidak akan cukup untuk membiayai pendirian semua bangunan dan untuk gaji yang pantas bagi mereka yang bekerja di sana. Dengan demikian harus dipungut pajak-pajak tambahan. Ini pun memerlukan lebih banyak lahan perkantoran dan menciptakan lebih banyak lahan pekerjaan bagi para pemungut pajak. Artinya, semua orang harus kerja keras untuk memelihara daya belinya. Artinya, banyak orang yang akan mencoba menghindari pajak, maka bertambahlah pekerjaan bagi mereka yang berada dalam sistem hukum. Ketika pajak-pajak ditingkatkan dan nilai uang melemah – karena harga-harga dinaikkan agar mendapat pemasukan tambahan tanpa perlu melakukan kerja tambahan – akhirnya kaum pekerja merasa tidak puas. Mereka berusaha untuk menyusun barisan dan merubah stafus quo2. Akibatnya bertambahlah undang-undang untuk menangkal gerakan-gerakan mereka. Ini berarti tambahan kerja bagi para petugas sistem hukum. Dan dengan demikian dalam waktu yang sangat singkat proses produsen-konsumen sudah bisa berdiri dengan kokoh. Sedangkan para pekerja terjerat di dalam sistem birokrasi yang teratur namun kacau – sebuah sistem yang mengalihkan perhatian mereka dari Sang Pemberi Nafkah kepada nafkahnya belaka – demi tingkat perekonomian dan keperluan mereka sehari-hari.

Ketika kegiatan produsen konsumen di suatu negara menjadi semakin kompleks dan beragam, dan ketika manusia menjadi semakin terasing dari dirinya masing-masing dan terpilah-pilah, maka akan datang suatu tahap yang tak terelakkan – sebagaimana yang kini kita lihat terjadi di negara-negara yang katanya tempat asal proses produsen konsumen: Ambruk Total.

***

Disalin dari buku karya Ahmad Thomson (dengan sedikit penyuntingan), berjudul “Sistem Dajjal”, penerbit Semesta, 1998, halaman 1, 6, 9-16. Silahkan dapatkan bukunya di toko buku untuk uraian lebih lanjut, atau dapat juga dibaca di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s