Kontroversi Al-Qaidah

Al-Qaidah, mungkin merupakan figur perlawanan paling fenomenal sekaligus kontroversial saat ini. Amerika Serikat menempatkannya sebagai musuh nomor satu sang negara adi daya. Serangan Al-Qaidah atas personel maupun kepentingan Amerika Serikat disebutkan berlangsung sejak 1992, yaitu serangan terhadap pasukan Amerika Serikat di Somalia, yang disusul dengan berbagai serangan atas target-target lainnya, termasuk pembomam gedung World Trade Center yang pertama di tahun 1993, serangan atas Kapal Perusak AL AS USS Cole di tahun 2000, dan serangan atas WTC untuk kedua kalinya pada 11 September 2001 yang menjadi aksi paling fenomenal yang dikaitkan dengan organisasi ini. Al-Qaidah tercatat dua kali mendeklarasikan perang terhadap Amerika Serikat, yaitu pada 1996 dan 1998.

Siapakah Al-Qaidah?

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Pakistan, Geo TV dan beredar di Youtube, Syeikh Mustafa Abul-Yazid, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Syeikh Said, salah satu anggota senior dan Majelis Syura Al-Qaidah, menjelaskan secara sepintas latar belakang dan tujuan pembentukan Al-Qaidah. Dia menyebutkan beberapa tokoh utama yang berperan dalam pembentukan Al-Qaidah, diantaranya Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Abu Ubaidah Panjshiri, dan Komandan Lapangan Abu Hafs Misri. Menurutnya, “Tokoh-tokoh ini membentuk Al-Qaidah sebagai ‘basis’ (pangkalan) mujahidin yang datang dari berbagai belahan dunia ke Afghanistan (dalam perang melawan Komunis Sovyet 1979-1989, -Red). Karena itu Syaikh Usamah dan rekan-rekannya membentuk “Qaidahtul-Jihad” untuk mengumpulkan para muhajir mujahidin ini.”  (Wawancara Geo TV dengan Syeikh Mustafa Abul-Yazid, Juli 2008).

Terjadi perdebatan di antara para ahli mengenai eksistensi Al-Qaidah yang sesungguhnya, apakah Al-Qaidah memang sebuah organisasi struktural yang tersentralisasi sebagaimana digambarkan dalam banyak statement resmi pemerintah AS melalui berbagai media, atau sekedar label pemerintah AS terhadap beragam gerakan perlawanan Islam yang dianggap mengganggu kepentingan AS.

Marc Sageman, seorang psikiatris dan mantan perwira CIA, mengatakan bahwa al-Qaidah saat ini sekedar “label bagi gerakan yang tampak mentarget Barat”. “Tidak ada organisasi payung. Kita senang menciptakan mitos entitas yang dinamai [al-Qaidah] di dalam pikiran kita, tetapi ini bukanlah realitas yang kita hadapi.” (James Blitz, 2010).

Pandangan Sageman mencerminkan pernyataan Usamah bin Ladin dalam wawancaranya pada Oktober 2001 dengan Tayseer Allouni:

“… hal ini tidaklah mengenai orang tertentu dan… bukan tentang organisasi Al-Qaidah.kami adalah anak-anak Ummat Islam, dengan Nabi Muhammad sebagai pemimpinnya, Tuhan kami satu… dan seluruh mukminin adalah bersaudara. Jadi situasinya tidak seperti yang digambarkan Barat, bahwa ada satu ‘organisasi’ dengan nama tertentu (seperti ‘al-Qaidah’) dan seterusnya. Nama tersebut sudah sangat lama. (Pangkalan) ini terlahir tanpa maksud tertentu dari kami. Saudara Abu Ubaida… mendirikan pangkalan militer untuk melatih para pemuda untuk melawan imperium Sovyet yang kejam, jumawa, brutal, dan menteror… Karena itu tempat ini disebut ‘Pangkalan’ [‘Al-Qa`idah’], sebagai pangkalan latihan, demikianlah nama ini berkembang dan terbentuk. Kami tidak terpisah dari ummat ini. Kami adalah anak-anak ummat ini, dan kami merupakan bagian yang tidak terpisahkan darinya, dan dari demonstrasi-demonstrasi massa yang merebak dari Timur Jauh, dari Filipina,  ke Indonesia, ke Malaysia, ke India, ke Pakistan, sampai ke Mauritania… dan kami mendiskusikan kesadaran ummat ini.”

Tuduhan

Banyak tuduhan dan teori konspirasi menyangkut al-Qaidah dan Usamah bin Ladin yang berkembang biak di internet saat ini dapat dilacak asalnya dari beberapa sumber ini: BBC, Robin Cook (Sekretaris Luar Negeri Inggris 1997-2001 yang berasal dari Partai Buruh), Benazir Bhutto, putri diktator sosialis Ali Bhutto, dan Bandar bin Sultan, mucikari lobi-lobi AS dan Saudi.

Pada artikel BBC di tahun 2004 berjudul “Al-Qaeda’s origins and links“, BBC menulis:

“Selama jihad anti-Sovyet Bin Ladin bersama para pejuangnya menerima pendanaan dari Amerika dan Saudi. Beberapa analis percaya bahwa Bin Ladin sendiri mendapatkan pelatihan dari CIA.”

Robin Cook, Sekretaris Luar negeri Inggris 1997–2001, percaya bahwa CIA telah menyediakan persenjataan bagi Mujahidin Arab, termasuk Usamah bin Ladin. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan the Guardian, Cook menulis, “Bin Ladin merupakan, hasil miskalkulasi monumental agensi-agensi keamanan Barat. Selama tahun 80-an dia dipersenjatai oleh CIA dan didanai oleh Saudi untuk melancarkan jihad melawan pendudukan Rusia di Afghanistan.” Sumber pernyataannya ini tidak jelas.

Dalam pembicaraan dengan mantan Sekretaris Pertahanan Inggris Michael Portillo, Perdana Menteri Pakistan Benazir menuding jika Usamah bin Ladin pada awalnya pro-Amerika. Tudingan Bhutto ini tampaknya sejalan dengan klaim Bandar bin Sultan yang ia lontarkan dalam acara Larry King di CNN. Bandar, Duta Besar Arab Saudi untuk AS saat itu yang sebetulnya telah diketahui bersama reputasi buruknya, berusaha mengaburkan motivasi serangan 9/11 terkait kebijakan luar negeri AS yang pro Israel, kemudian mengalihkan isu dengan mengklaim bahwa Usamah bin Ladin pernah mendatanginya untuk berterimakasih atas bantuan AS di Afghanistan.

Setelah beredarnya klaim-klaim ini, isu-isu lain dikembangkan untuk mendukung teori ini, sehingga berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan oleh AS dan sekutunya sebelum maupun setelah apa yang mereka sebut dengan perang melawan teror menjadi terabaikan seiring bergesernya perhatian publik dari masalah dan solusi yang sebenarnya.

Tanggapan

Penjelasan dari pihak al-Qaida sendiri sebetulnya sudah cukup menjadi alasan untuk menolak tudingan-tudingan tadi, karena sebagaimana diungkapkan Peter Bergen, seorang jurnalis dan analis keamanan nasional CNN, tuduhan dan klaim-klaim tersebut tidak disertai dengan bukti sedikitpun.

Banyak pihak, tidak terkecuali pemerintah AS menyatakan jika mereka hanya mendukung mujahidin pribumi Afghan. Baik CIA maupun pemerintah AS telah menyangkal jika mereka memiliki kontak dengan Afghan Arab (mujahidin asing) atau Bin Ladin, apalagi mempersenjatai, melatih, atau mengindokrinasi mereka. Para ahli dan repoter menyatakan jika isu Afghan Arab (mujahidin asing) yang didukung CIA adalah “omong kosong”, “khayalan” dan “sekedar mitos.”

Menurut mereka:

  • Dengan setengah juga warga Afghan yang bersedia berperang tidak ada kebutuhan untuk dengan sengaja merekrut pejuang asing yang tidak mengenal bahasa dan kebiasaan setempat
  • Dengan beberapa ratus juta dollar dana dari non-Amerika, sumber-sumber Muslim, para pejuang Arab Afghan tidak membutuhkan dana Amerika
  • Amerika tidak akan bisa melatih para mujahidin karena pemerintah Pakistan tidak akan mengijinkan lebih banyak lagi agen Amerika untuk beroperasi di Pakistan atau Afghanistan;
  • Para pejuang Arab Afghan adalah Islamis militan, cenderung bermusuhan dengan orang Barat, dan mengarahkan ancaman atau serangan terhadap orang Barat meskipun mereka dianggap membantu mujahidin.

Pemimpin Al-Qaidah Ayman al-Zawahiri menyatakan hal serupa dalam bukunya Para Kesatria Dibawah Panji Nabi.

Usamah bin Ladin sendiri pernah menyatakan “kehancuran Uni Soviet … berkat Allah dan para mujahidin di Afghanistan … AS tidak memiliki peran yang berarti,” tetapi “kehancuran ini membuat AS semakin arogan.”

Menurut Peter Bergen, yang dikenal melakukan wawancara pertama dengan Usamah bin Ladin di tahun 1997,

Cerita tentang bin Ladin dan CIA – bahwa CIA mendanai atau melatih bin Ladin – cuma mitos. Tidak ada bukti mengenai hal ini. Bahkan, sedikit sekali yang bisa disepakati oleh bin Ladin, Ayman Az-Zawahiri dan pemerintah AS. Mereka sepakat bahwa mereka tidak pernah punya hubungan di tahun 1980. Dan merekapun tidak membutuhkannya. Bin Laden memiliki uangnya sendiri, dia anti-Amerika dan dia bekerja secara rahasia dan independen. Cerita yang sebenarnya adalah CIA tidak memahami Usamah sampai tahun 1996, ketika mereka membentuk satu unit untuk benar-benar melacaknya.

Bergen mengutip Brigadir Mohammad Yousaf, yang menjalankan operasi Afghan Inter -Services Intelligence (ISI) antara 1983 and 1987:

“Yang selalu mengganggu bagi pihak Amerika, dan saya mengerti sudut pandang mereka, yaitu bahwa meskipun mereka membiayai tetapi mereka tidak bisa mengendalikan. CIA mendukung mujahidin dengan menghabiskan uang pembayar pajak, jutaan dollar selama bertahun-tahun, untuk pembelian senjata, amunisi, dan perlengkapan. Cabang pembelian senjata rahasia mereka selalu dibuat sibuk. Tapi bagaimanapun, adalah kebijakan utama Pakistan adalah tidak boleh ada orang Amerika yang bisa terlibat dalam distribusi dana dan persenjataan setibanya di negara ini. Tidak pernah ada orang Amerika yang pernah melatih atau memiliki hubungan langsung dengan mujahidin, dan tidak pernah ada pejabat Amerika yang pernah masuk ke Afghanistan.

Marc Sageman, Pejabat Layanan Luar Negeri yang ditempatkan tahun 1987–1989, dan bekerja dengan Mujahidin (lokal) Afghanistan, menyatakan tidak ada uang Amerika yang mengalir ke pejuang sukarelawan asing..

Sageman juga mengatakan:

Sepanjang peperangan, mereka (para pejuang asing, -Red.) terpencar diantara kelompok-kelompok Afghan yang terkait dengan empat partai fundamentalis Afghan.

Tidak ada pejabat AS yang pernah berhubungan dengan para sukarelawan asing. Mereka hanya berpergian di lingkaran-lingkaran yang berbeda dan tidak pernah melintasi pengawasan AS. Mereka memiliki sumber uangnya dan memiliki kontak dengan Pakistan, Saudi, dan pendukung Muslim lainnya, dan mereka membuat perjanjian-perjanjian sendiri dengan beragam pemimpin perlawanan Afghan.

Vincent Cannistraro, yang memimpin Kelompok Kerja Afghan pemerintahan Reagan dari 1985 sampai 1987 menegaskan hal ini,
CIA sangat segan untuk sama sekali terlibat. Mereka pikir mereka akan kembali disalahkan, seperti di Guatemala.” Karena itu mereka menghindari terlibat langsung dalam peperangan, …Cannistraro memperkirakan, CIA hanya memiliki kurang dari 10 operatif yang bertindak sebagai mata dan telinga Amerika di wilayah tersebut. Milton Bearden, kepala operasi lapangan CIA dalam perang, bersikukuh “CIA tidak punya hubungan apapun dengan bin Laden.” Cannistraro menyatakan bahwa saat dia mengkoordinasikan kebijakan Afghan dari Washington, dia tidak pernah sekalipun mendengar nama bin Laden.

Reporter Fox News Richard Miniter menulis dalam wawancaranya dengan dua orang yang mengawasi seluruh pengeluaran dana Amerika kepada kelompok perlawanan anti-Sovyet, Bill Peikney – kepala pangkalan CIA di Islamabad dari tahun 1984 sampai 1986 – dan Milt Bearden – kepala pangkalan CIA 1986-1989 – menemukan,

Keduanya dengan tegas menyangkal dana CIA pernah mengalir kepada bin Laden. Mereka sangat yakin dengan hal ini sehingga mereka setuju untuk terus direkam, langkah yang tidak biasa bagi pada umumnya petugas intelejen yang penuh rahasia. Peikney menambahkan dalam satu e-mail kepada saya: “Saya bahkan tidak ingat UBL (bin Laden) pernah melintas dalam pikiran saya pada saat saya berada di sana.

Alasan lain kurang pentingnya hubungan CIA dengan Arab Afghan adalah kecilnya jumlah mereka dibanding jumlah pejuang lokal yang sangat besar. Perkiraan jumlah kombatan dalam perang tersebut adalah 250.000 bangsa Afghan melawan 125.000 tentara Soviet, dan hanya sekitar 2000 Arab Afghan yang turut berperang.

Konspirasi?

Sumber-sumber klaim rekayasa Amerika Serikat (CIA) di balik Al-Qaidah justru datang dari mereka yang sebenarnya tidak memiliki akses informasi langsung mengenai peta aktivitas dan relasi CIA maupun Al-Qaidah di Afghanistan (selama perang 1979-1989), sehingga tuduhan mereka bahwa AS melalui CIA membantu, melatih bahkan merekrut Al-Qaidah lebih merupakan spekulasi, bahkan mungkin juga disinformasi. Tanpa bukti dan saksi yang kuat, teori konspirasi mengenai Al-Qaidah ini hanya akan tetap menjadi teori dan spekulasi, bahkan bisa jadi konspirasi yang sesungguhnya.

Sumber: Wikipedia dan beberapa sumber lainnya. Klik link untuk keterangan lebih lanjut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s