Australia Lebih Prioritaskan AS, Tidak Peduli Dengan Reputasinya di Kawasan

oleh :harmen batubara

Snowden: Australia Agen Spionase AS untuk Asia

Skandal penyadapan yang dilaukan Amerika Serikat (AS) terhadap pemimpin dunia termasuk negara-negara sekutu di Eropa juga meluas ke Asia. Australia sebenarnya sudah lama diketahui menjadi agen spionase AS terhadap negara-negara Asia, termasuk Indonesia.  Hal itu, terungkap dalam bocoran dokumen Badan Keamanan Nasional (NSA) AS oleh Edward Snowden yang diterbitkan The Sydney Morning Herald (SMH), Australia, dan Majalah Der Spiegel, Jerman, Rabu (30/10/2013).

Dalam laporan tersebut, diungkapkan bahwa Kedutaan Besar (Kedubes) Australia merupakan bagian jaringan mata-mata global yang dipimpin AS untuk menyadap panggilan telepon juga data-data untuk pemimpin dan politisi di seluruh Asia.  “Ada fasilitas penyadapan yang terpasang di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Bangkok, Hanoi, Beijing, Dili, juga di Kuala Lumpur dan Port Moresby Papua Nuhini,” demikian laporan Majalah Der Spiegel yang dikutip AP Australia.

Dijelaskan, ada sinyal dari program khusus intelijen AS, CODEC, yang terhubung dari Kedubes AS dengan konsulat dan misi diplomatik sejumlah mitra intelijen, termasuk Asutralia, Inggris dan Kanada. “Fasilitas spionase itu bersifat rahasia dan tidak diketahui oleh diplomat yang ditempatkan di negara yang dimata-matai,” demikian laporan AP Australia.

Sementara SMH Australia melaporkan Kedubes Australia di Jakarta memainkan peran penting untuk mengumpulkan data intelijen terkait ancaman terorisme dan penyelundupan manusia. Konsulat Australia di Bali juga dimanfaatkan untuk mengumpulkan data intelijen, tambah sumber itu.  “Namun fokus utamanya adalah intelijen bidang politik, diplomasi dan ekonomi. Pertumbuhan jaringan telepon seluler telah memberi anugerah besar dan elite politik di Jakarta adalah sekumpulan orang yang banyak omong: bahkan ketika mereka menduga intelijen mereka sendiri sedang menguping, mereka terus ngomong,” kata media itu mengutip seorang mantan pejabat intelijen yang tidak disebutkan namanya.

Timor Leste Melakukan Protes Terbuka

Seperti Indonesia, pada Juni 2013, Pemerintah Timor Leste juga sudah pernah menyampaikan protes terbuka tentang aksi spionase Australia, termasuk penyadapan komunikasi kantor-kantor pemerintah selama berlangsungnya negosiasi tentang masa depan cadangan minyak dan gas Celah Timor. Bocoran intelijen ke media di era 1980an juga mengungkapkan adanya peralatan sadap yang “luar biasa canggih” di kantor Komisi Tinggi Australia di Port Moresby, Papua Nugini, dan juga di Kedutaan Australia di Jakarta dan Bangkok.

Bocoran lain tentang laporan-laporan rahasia Indonesia dan Timor Leste tahun 1999 mengindikasikan kalau intelijen Australia memiliki akses luas terhadap komunikasi militer dan sipil Indonesia yang sensitif. Seorang mantan perwira Intelijen Pertahanan Australia mengatakan negaranya memiliki program yang dipasang untuk operasi pengawasan dari kedutaan Australia di Asia dan Pasifik. Namun dia menolak mengomentari apakah ada kaitan dengan operasi intelijen.

Australia Tidak Peduli Dengan Reputasi di Asia 

Reputasi Australia sebagai pemimpin yang ramah dan terpercaya di wilayah kawasan Asia Pasifik akan cacat jika terbukti menggunakan kedutaannya untuk memata-matai negara-negara tetangga. Penilaian tersebut disampaikan beberapa negara Asia dengan misi diplomatik di Canberra.

Di Perth, Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan mata-mata adalah TINDAKAN TIDAK SPORTIF dan Jakarta menginginkan penjelasan. Australia dan Indonesia adalah teman baik dan tidak perlu untuk memata-matai satu sama lain. “Kalau Australia itu menjadi subyek pada kegiatan seperti ini, akankah negara Anda mempertimbangkannya sebagai tindakan ramah atau tidak?  Saya tidak yakin apa istilah yang tepat dalam terminologi Australia. Tapi saya rasa itu  tidak sportif,” begitu ungkapannya.

Pada Jumat (1/11/2013), Marty Natalegawa berada di Perth dalam rangka INDIAN OCEAN RIM ASSOCIATION untuk kerja sama regional. Menurut Marty, kepercayaan adalah hasil sebuah proses, namun pemerintah Indonesia kini hanya menuntut klarifikasi dan penjelasan. “Penyadapan adalah satu hal, tetapi apakah Anda ingin menempatkan bahwa dampak dan akibatnya berpotensi merusak jenis kepercayaan dan keyakinan yang telah dipelihara dan dikembangkan selama beberapa tahun dan dekade adalah sesuatu yang kita mungkin ingin renungkan,” katanya.

Diplomat Asia lainnya dari kedutaan dan komisi tinggi di Canberra secara pribadi menyatakan keprihatinan atas kemungkinan Australia memata-matai pemerintah mereka untuk Washington.”Ini bukan tanda dari seorang teman baik atau pemimpin di kawasan ini. Mungkin tidak kejutan besar bahwa Amerika Serikat memata-matai negara lain, tetapi Australia seharusnya tidak begitu,” kata seorang diplomat tingkat tinggi yang meminta untuk tidak diidentifikasi. Padahal kalangan DIPLOMAT ASIA paham kalau Australia itu adalah salah satu serifnya untuk Asia.

Seorang diplomat lainnya juga memperingatkan bahwa Australia akan memicu tingkat kecurigaan  di kawasan tersebut jika terbukti memata-matai negara tetangganya. Masalah penyadapan dapat mengganggu hubungan  antara Australia dan negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik jika tidak diselesaikan dengan cepat. Padahal sejatinya mereka tahu bahwa Australia tidak punya kepekaan akan hal semacam itu, selama ini Australia tidak pernah merasa membutuhkan sesuatu dari kawasan ini.

Australia Sudah Lama Sadap Komunikasi Presiden SBY

Anehnya Pemerintah Indonesia dan juga Asia lainnya sepertinya masih berpura-pura tidak percaya dan tidak dapat menerima tindakan penyadapan intelijen Australia terhadap komunikasi Presiden mereka; meski mereka sama-sama menilai cara seperti itu akan mencederai hubungan persahabatan antar negara. Padahal sejatinya Indonesia dan negara-begara Asia lainnya sudah lama tahu kalau Presidennya sudah lama di sadap. Anehnya lagi desakan yang sama juga dilontarkan pemerintah Tiongkok, Malaysia dan India, sepertinya negara-negara itu juga seolah tidak tahu kalau pimpinan mereka di sadap komunikasinya.

Secara terbuka Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa akan meminta penjelasan Duta Besar (Dubes)  Australia, Greg Moriarty, terkait skandal penyadapan Australia yang dituding menjadi agen mata-mata Amerika Serikat (AS) untuk Asia, termasuk Indonesia. Marty dan Moriarty akan bertemu di Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Jakarta, Jumat (1/11/2013).

Dalam pertemuan tersebut, Kemlu RI menuntut penjelasan dari Kedubes Australia di Jakarta mengenai keberadaan dan penggunaan fasilitas penyadapan di Kedutaan Australia di Jakarta dan negara-negara lain di kawasan. Sebagai negara tetangga dan bersahabat, tindakan Australia dinilai sama sekali tidak mencerminkan semangat hubungan baik.

“Harus ditekankan bahwa jika dikonfirmasi, tindakan tersebut tidak hanya merupakan pelanggaran keamanan, tetapi juga pelanggaran serius terhadap norma-norma dan etika diplomatik, dan tentu saja tidak selaras dengan semangat hubungan persahabatan antara bangsa-bangsa,” kata Marty.

Yang menarik adalah tanggapan PERDANA MENTERI AUSTRALIA Tony Abbott, terkait permintaan klarifikasi tersebut hanya mengatakan bahwa pemerintahnya tidak melanggar hukum. “Setiap instansi pemerintah Australia, setiap pejabat Australia, di dalam dan di luar negeri, beroperasi sesuai dengan hukum. Dan itulah jaminan yang dapat saya berikan kepada orang,” kata Abbott kepada wartawan. Harus diakui bahwa dalam doktrin Intelijen, semua warga adalah intel bagi kepentingan nasionalnya.

Dokumen Snowden mengungkapkan fasilitas kedutaan Australia dijadikan tempat peralatan penyadapan AS yang juga digunakan untuk memantau para pemimpin Indonesia lainnya. Perangkat tersebut disembunyikan dengan hati-hati dalam fasilitas kedutaan. Australia telah memungkinkan program rahasia NSA untuk beroperasi di kedutaan di Indonesia, Thailand, Vietnam, Tiongkok, dan Timor Leste.

 Australia Sadap Indonesia untuk Kepentingan Sendiri 

Seorang mantan pejabat Australia yang paham akan pentingnya hubungan Australia dengan AS mengatakan bahwa Australia telah melakukan operasi intelijen sudah berlangsung dalam berbagai bentuk selama 20 sampai 30 tahun. Menurut dia, Australia telah lama merasa perlu untuk mengumpulkan informasi sensitif di Indonesia, NEGARA MUSLIM terbesar di dunia, yang terletak di sebelah utara Australia. Masalah keamanan adalah prioritas tertinggi bagi Australia termasuk diantaranya peningkatan penyelundupan manusia ke Australia dari Indonesia yang seolah tidak mendapat perhatian pemerintah Indonesia. Menurut mereka Indonesia bisa berbuat banyak dalam hal menghalangi masuknya penyelundupan manusia ke Australia; tapi nyatanya malah bisa dijadikan peluang usaha.

“Penyadapan ini dilakukan bukan sebagai bantuan ke AS. Tindakan ini dilakukan lebih dari sekadar kerja sama atas permintaan AS,” kata mantan pejabat, yang meminta kondisi anonimitas karena sensitivitas masalah ini. Dokumen NSA menggambarkan operasi pengawasan di fasilitas Australia, yang dikutip Der Spiegel menyebutkan jumlah satuan intelijen yang ditugaskan tergolong kecil. Kegiatan mereka sangat rahasia, dan misi yang sebenarnya tidak diketahui oleh sebagian besar staf diplomatik di fasilitas tempat mereka ditugaskan”,” katanya. (sumber : voa/nytimes/ap/abc/ smh/guardian/herald sun/the australian)

Disalin dari: KawasanPerbatasan.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s