Perang Khandaq dan Konspirasi Yahudi

Peta Perang Khandaq

Illustrasi

Ghazwah Khandaq atau Perang Parit, dikenal juga dengan sebutan Perang Ahzab, adalah peperangan antara kaum Muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad saw melawan pasukan ahzab (konfederasi/sekutu) Yahudi  dan Pagan Arab yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Peperangan ini berlangsung pada tahun ke 5 Hijriah atau 627 M. Dalam perang tersebut, 3000 pasukan Muslim bersama warga Madinah lainnya bertahan dan berhasil memukul mundur kepungan 10.000 pasukan sekutu bersenjata berat yang didukung 600 pasukan kavaleri.

Begitu besarnya kekuatan musuh dan mencekamnya situasi saat itu tercatat dalam Al-Quran surah Al-Ahzab:

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab [33]: 10-11)

Pasukan sekutu terdiri dari Yahudi Bani Nadzir, Bani Qunayqa, dan Bani Quraizha yang menyusul kemudian, sedangkan dari Pagan Arab bergabung suku Quraisy, dan Pagan Arab lainnya. Aliansi ini dipelopori oleh para pemuka Yahudi Bani Nadzir yang sebelumnya terpaksa melakukan eksodus dari Madinah ke Khaibar dan Adhri’at di bilangan Syam karena konspirasi mereka terhadap kaum muslim di Madinah terbongkar.

Al-Quran dalam surah Al-Mujadalah ayat 8 mencatat bagaimana kaum Yahudi dan kaum Munafik senantiasa merancang konspirasi semacam ini,

Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang Telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, Kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul. dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (al-Mujadalah: 8)

Jalaludin As-Suyuthi menjelaskan konteks turunnya ayat tersebut di atas dengan mengutip riwayat Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hayyan yang berkata, “Antara Nabi saw. dan kaum Yahudi terjadi kesepakatan damai. Dalam masa itu, setiap kali ada sahabat Nabi saw. yang lewat maka orang-orang Yahudi terlihat saling berbisik di antara mereka sampai-sampai sahabat tersebut mengira bahwa mereka tengah merencanakan untuk membunuhnya atau melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya. Rasulullah lantas melarang orang-orang Yahudi tersebut untuk berbisik-bisik, tetapi mereka tidak mematuhinya. Allah lalu menurunkan ayat, ‘Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan perbincangan rahasia….'”

Dalam Quran surah Al-Mujadalah ayat 8 di atas juga disebutkan, selain tabiat mereka dalam merekayasa konspirasi, kaum Yahudi juga menunjukkan permusuhan mereka kepada Nabi Muhammad saw dengan mengucapkan perkataan yang secara sepintas seperti ungkapan perdamaian, tetapi sebenarnya memiliki maksud lain. Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar, dan ath-Thabarani dengan sanad yang kuat, yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Sejalan dengan riwayat ini, ada pula riwayat yang bersumber dari Anas dan ‘Aisyah, bahwa kaum Yahudi memberi salam kepada Rasulullah saw. dengan ucapan saamun ‘alaikum (mudah-mudahan kamu mati). Kemudian mereka mengatakan dalam hati, mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu? Ayat ini (al-Mujadalah: 8) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, dan mengancam mereka dengan siksa neraka jahanam.

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.”
(al-Mujadalah: 10)

Rencana-rencana jahat yang semula mereka rancang secara rahasia dan ucapan-ucapan tersembunyi itu mereka buka juga pada saat mereka sudah merasa siap dan kuat, pasukan Ahzab pun dikerahkan untuk mengepung Madinah. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (1980) mencatat,

Orang-orang Yahudi ialah  musuh  Muhammad  yang  paling  tajam memperhatikan  ajaran-ajaran  dan  cara  berdakwahnya.  Dengan kemenangannya itu merekalah yang paling banyak memperhitungkan nasib  yang telah menimpa diri mereka. Mereka di negeri-negeri Arab sebagai penganjur-penganjur ajaran tauhid  (monotheisma). Mengenai penguasaan bidang ini mereka bersaingan sekali dengan pihak Kristen. Mereka selalu berharap akan  dapat  mengalahkan lawannya ini. Dan barangkali mereka benar juga mengingat bahwa orang-orang Yahudi ialah bangsa Semit yang pada dasarnya lebih condong pada pengertian monotheisma. Sementara ajaran trinitas Kristen suatu hal yang tidak mudah dapat dicernakan oleh  jiwa Semit.  Dan  sekarang  Muhammad, orang yang berasal dari pusat Arab dan dari pusat orang-orang  Semit  sendiri,  menganjurkan ajaran  tauhid  dengan cara yang sungguh kuat dan mempesonakan sekali, dapat menjelajahi dan merasuk  sampai  ke  lubuk  hati orang,  dan  mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Sekarang ia sudah begitu kuat, dapat mengeluarkan Banu

Qainuqa’ dari Medinah, mengusir Banu Nadzir dari daerah koloni mereka. Dapatkah mereka membiarkannya terus begitu, dan mereka sendiri  pergi  ke  Syam  atau pulang ke tanah air mereka yang pertama,  ke  Bait’l-Maqdis   (Yerusalem)   di   Negeri   yang Dijanjikan  – Ardz’l-Mi’ad – (Palestina), ataukah mereka harus berusaha menghasut orang-orang Arab itu supaya dapat  membalas dendam kepada Muhammad?

Rencana  hendak  menghasut orang-orang Arab adalah yang paling terutama menguasai pikiran pemuka-pemuka  Banu  Nadzir.  Untuk melaksanakan  rencana itu, beberapa orang dari kalangan mereka pergi hendak menemui Quraisy di  Mekah.  Mereka  terdiri  dari Huyayy   b.   Akhtab.   Sallam   b.  Abi’l-Huqaiq  dan  Kinana bin’l-Huqaiq, bersama-sama dengan  beberapa  orang  dari  Banu Wa’il Hawadha b. Qais dan Abu ‘Ammar.

Ketika  oleh  pihak Mekah, Huyayy ditanya mengenai golongannya itu ia menjawab:

“Mereka saya biarkan mundar-mandir ke Khaibar dan  ke  Medinah sampai  tuan-tuan  nanti datang ke tempat mereka dan berangkat bersama-sama menghadapi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.”

Ketika oleh mereka ditanya tentang Quraiza, ia menjawab:

“Mereka tinggal di Medinah sekedar  mau  mengelabui  Muhammad. Kalau  tuan-tuan  sudah datang mereka akan bersama-sama dengan tuan-tuan.”

Pihak Quraisy jadi ragu-ragu  akan  maju,  atau  mundur  saja. Mereka   dengan  Muhammad  tidak  berselisih  apa-apa,  selain ajarannya tentang Tuhan. Bukan tidak mungkinkah bahwa dia juga yang benar, sebab makin hari ajarannya itu ternyata makin kuat dan tinggi juga?

“Tuan-tuan  dari   golongan   Yahudi,”   kata   pihak-Quraisy. “Tuan-tuan   adalah   ahli  kitab  yang  mula-mula  dan  sudah mengetahui pula apa  yang  menjadi  pertentangan  antara  kami dengan  Muhammad.  Soalnya  sekarang: manakah yang lebih baik, agama kami atau agamanya.”

Pihak Yahudi menjawab:

“Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan  lebih benar dari dia.”

Dalam hal ini firman Tuhan dalam Qur’an menyebutkan;

“Tidakkah  engkau  perhatikan  orang-orang  yang  telah diberi sebahagian kitab? Mereka percaya kepada sihir dan berhala  dan mereka  berkata  kepada orang-orang kafir: ‘Jalan mereka lebih benar dari orang yang beriman.’  Mereka  itulah  yang  dikutuk oleh  Tuhan.  Dan barangsiapa yang dikutuk Tuhan, maka baginya takkan ada penolong.” (Qur’an, 4: 51-52)

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Dengan pertolongan Allah, segala konspirasi yang berhasil mendorong 10.000 pasukan sekutu Yahudi dan Pagan Arab itu tidak mampu menembus pertahanan parit yang hanya dikawal 3000 pasukan Muslim. Pasukan sekutu itu pun berhasil dipukul mundur, memberikan kaum Muslim pengaruh yang lebih besar lagi di Jazirah Arab sehingga akhirnya merambah ke berbagai negeri di Asia, Afrika, dan juga Eropa.

Sumber dan bacaan lebih lanjut:

http://www.generasimuslim.com/sirah-nabawiyah/487-perang-khandaq-ahzab-perang-parit

http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_the_Trench#The_Confederates

http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/index.html

http://alislamu.com/juz-28/5577-surah-al-mujaadilah.html

http://alquranmulia.wordpress.com/2013/01/15/asbabun-nuzul-surah-al-mujadalah-2/

http://www.searchtruth.com/tafsir/tafsir.php?chapter=33

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s