Perjalanan Garuda

Kita semua rasanya sudah mengetahui jika Garuda adalah lambang negara Indonesia, tapi mungkin tidak sedikit yang masih belum tahu latar belakang perjalanan burung yang satu ini sampai bisa menjadi lambang negara.

Hinggapnya Garuda di Nusantara

Jauh sebelum Republik Indonesia lahir sebagai negara modern dan menetapkan Garuda sebagai lambang negara, pada abad 1 M para pedagang dari Selatan India telah lebih dulu memperkenalkan Garuda kepada masyarakat Nusantara sebagai si burung sakti. Penguatan dan perluasan pengaruh kultural India di nusantara berjalan seiring dengan pembangunan koloni-koloni dan pos-pos perdagangan India di wilayah Asia Tenggara (terutama Suvarnabhumi dan Suvarnadvipa) untuk kepentingan perdagangan mereka dengan Cina.

Sosok keberanian dan kepahlawanan Garuda terutama diperlihatkan dalam kisah keberaniannya melawan Indra demi menyelamatkan ibunya dari perbudakan Kadru sang naga. Keutamaan Garuda juga terlihat dari tugasnya sebagai tunggangan (wahana) Wisnu yang merupakan salah satu dari tiga dewa utama dalam kepercayaan Hindu (Trimurti). Meskipun demikian, orang tuanya memberinya kebebasan untuk memangsa manusia, kecuali kaum brahmana.

Popularitas Garuda di kalangan masyarakat terpelajar dibangun melalui berbagai literatur, sedangkan bagi masyarakat luas ditanamkan melalui tradisi lisan, dan kemudian dipelihara melalui penampilannya di banyak candi dan arca yang peninggalannya masih bisa kita temukan sampai sekarang.

Selain Hindu-Buddha, mungkin hampir semua kepercayaan pagan di dunia juga mengenal sosok dewa serupa Garuda dengan berbagai sebutan dan variasi atribut yang kadang berbeda, tapi juga tidak jarang bersifat sinkretis.

Garuda Sebagai Tunggangan Para Raja

Arca AirlanggaPatung Airlangga yang digambarkan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda.

Sebagaimana kekuasaan monarki Eropa di abad pertengahan memperoleh legitimasinya dari Gereja dan demikian pula kekuasaan Gereja dilindungi oleh para raja, kekuasaan raja-raja di nusantara lama pun didasari juga oleh relasi kekuasaan agama-negara. Menurut J.C Van Leur, “Karena kepala suku yang ada di Indonesia kedudukannya ingin diakui dan kuat seperti raja-raja di India maka mereka dengan sengaja mendatangkan kaum Brahmana dari India untuk mengadakan upacara penobatan dan mensahkan kedudukan kepala suku di Indonesia menjadi raja. Dan mulailah dikenal istilah kerajaan. Karena upacara penobatan tersebut secara Hindu maka secara otomatis rajanya juga dinyatakan beragama Hindu, jika raja beragama Hindu maka rakyatnyapun akan mengikuti rajanya beragama Hindu.”

Bertahannya cerita dan karakter Garuda tidak terlepas dari relasi agama-negara tersebut di atas. Dalam kepercayaan Hindu, Wisnu menggambarkan kelangsungan dan orde, yang pada dasarnya saling melengkapi satu sama lain. Wisnu adalah penguasa air, istrinya Sri adalah dewi padi. Penyelamat yang bereinkarnasi pada pahlawan-pahlawan seperti Rama (dalam epos Ramayana), Krisna dan Arjuana (dalam epos Mahabhrata). Seluruh fungsi dan simbol yang merujuk pada perlindungan atau pemerintahan. Wisnu menyimbolkan kekuasaan. Demikian pula Garuda sebagai tunggangan Wisnu merupakan tunggangan kekuasaan. Ajaran Hindu-Wisnu menekankan pada pengkultusan Wisnu dan karakter-karakter yang berhubungan dengan Wisnu. Termasuk inkarnasi Wisnu, istri Wisnu, dan Garuda sebagai tunggangannya. Tidak heran jika beberapa raja Jawa mengaku sebagai reinkarnasi Wisnu untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya.

Memudarnya kekuasaan Syiwa-Buddha dengan lahirnya kerajaan-kerajaan Islam tidak sepenuhnya menghilangkan pengaruh kepercayaan lama. Perayaan terbesar kesultanan Yogyakarta menyertakan Gunungan nasi yang mewakili gunung kosmis dan dewi padi istri Wisnu, simbol Garuda yang lebih jelas juga disertakan. Sultan Yogyakarta, secara implisit dinyatakan sebagai reinkarnasi Wisnu, berkendaraan dalam pawai dengan kereta yang bersayap Garuda bernama Garuda Kencono. Sang Sultan pun dilindungi oleh Garuda sebagaimana ditunjukkan oleh panji-panji Garuda yang digunakan sebagai perlengkapannya.

Indonesia Modern di bawah Naungan Sayap Garuda

Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II masih menampilkan bentuk tradisional Garuda yang bertubuh manusia.

Kepercayaan dan simbolisasi kesaktian Garuda ternyata masih terus bertahan sampai di era modern Indonesia. Setelah pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) di bawah Uni Indonesia-Belanda, Soekarno mengangkat Sultan Abdul Hamid II (Sultan Pontianak) sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio dan memberinya tugas untuk merencanakan, merancang dan merumuskan lambang negara. Sultan Hamid II sendiri kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda.

Pada tanggal 10 Februari 1950, Menteri Negara RIS Sultan Hamid II mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang. Hasil akhirnya adalah lambang negara Garuda Pancasila yang dipakai hingga saat ini. Rancangan lambang negara tersebut diresmikan dalam sidang kabinet RIS yang dipimpin Perdana Menteri RIS Mohammad Hatta pada 11 Februari 1950.

Garuda Pancasila yang diresmikan penggunaannya pada 11 Februari 1950, masih tanpa jambul dan posisi cakar di belakang pita.

Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Jika ide mengenai perisai Pancasila datang dari Presiden Soekarno, maka gagasan penggunaan burung Garuda konon diadopsi dari lambang kerajaan Sintang (Kalimantan Barat) yang dipinjam oleh Sultan Abdul Hamid II pada saat merancang lambang negara. Patung itu sendiri merupakan hadiah dari Lohgender, seorang Patih Majapahit.

Patung besar Garuda Pancasila, terpasang di Ruang Kemerdekaan Monas, Jakarta.

Elemen lain yang cukup menonjol dari Garuda sebagai lambang negara, selain burung itu sendiri dan perisai Pancasila-nya, adalah pita bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang merupakan kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 yang ditujukan untuk menyatukan antara Hindu dan Buddha. Kata “bhinneka” berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata “tunggal” berarti satu, kata “ika” berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”.

Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5:

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Artinya:

Konon Buddha dan Syiwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Syiwa adalah tunggal
Beraneka itu, tetapi satu juga itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Yang menarik, meski ada yang mengatakan jika penambahan jambul pada rancangan Garuda gundul sebelumnya diajukan oleh Soekarno untuk menghindari persamaan dengan Bald Eagle, Penambahan kutipan “Bhinneka Tunggal Ika” yang terdapat pada pita yang di cengkram Garuda justru memiliki pengertian yang kurang lebih sama dengan “E pluribus unum” yang terdapat pada pita di gambar Bald Eagle yang merupakan lambang Amerika Serikat.

Dengan latar belakang konteks religiopolitik seperti tergambar dari perjalanan Garuda di atas, tampaknya cukup wajar jika sampai hari ini Garuda terkesan seolah dikeramatkan oleh sebagian kalangan, tidak hanya ditetapkan sebagai lambang negara, Garuda juga dianggap sebagai soko guru spiritual bangsa, bahkan sudah masuk dalam konteks keimanan. Cukup wajar, karena simbolisme Garuda memang sejak awal berkembang dari sistem kepercayaan.

Penjelasan dan keterangan lebih lanjut bisa dibaca di:

Dr. Jean Couteau, Garuda: From Myth to National Symbol, http://www.goarchi.com/archo/mag/garuda.html
The Indianization of South East Asia, http://www.southeastasianarchaeology.com/2008/02/22/the-indianization-of-southeast-asia/

http://www.freewebs.com/rinanditya/hindubudha.htm

Story of Garuda – Part 1, http://www.mahabharataonline.com/stories/mahabharata_story.php?id=24
Garuda, https://id.wikipedia.org/wiki/Garuda
What is Paganism, http://www.paganfederation.org/what-is-paganism/
Paganism, https://en.wikipedia.org/wiki/Paganism
Bird Headed Beings in Mythology, http://www.crystalinks.com/bird.html
Mohd. Zariat Abdul Rani, The History of Hinduism and Islam in Indonesia: a Review on Western Perspective, http://journal.ui.ac.id/humanities/article/view/571/567
Sejarah Indonesia (1945-1949), https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_%281945%E2%80%931949%29
Lambang Garuda Dirancang Seorang Sultan, http://www.tempo.co/read/news/2010/01/27/063221646/Lambang-Garuda-Pancasila-Dirancang-Seorang-Sultan
Pejabat Kabinet Masa Pemerintahan Soekarno, http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/cabinet_personnel/?box=detail&id=103&from_box=list_245&hlm=1&search_tag=&search_keyword=&activation_status=&presiden_id=1&presiden=sukarno
Sultan Hamid II, https://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hamid_II
Garuda Pancasila Adopsi dari Lambang Kerajaan Sintang, http://infopontianak.org/garuda-pancasila-adopsi-dari-lambang-kerajaan-sintang/
Bhinneka Tunggal Ika, https://id.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika
E pluribus unum, https://en.wikipedia.org/wiki/E_pluribus_unum
Nanang, Rumah Garuda dan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila, http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=4369

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s