K.F. Holle dan Politik Anti Islam

KF. Holle bagi masyarakat Sunda diakui sebagai salah seorang yang berjasa dalam mengembangkan literatur sunda di era kolonial. Tentu saja sekecil apapun sumbangsih seseorang, mesti kita hargai. Tapi sebesar apapun “jasa” seseorang, selama itu dilakukan untuk kepentingan penjajahan, tentu tidak bisa diterima begitu saja secara naif dan tanpa kritik.

Dunia Aleut!

Oleh : M. Ryzki Wiryawan ( @sadnesssystem )

Image

K.F. Holle

Sejarah merupakan kawasan abu-abu. Di dalamnya, penilaian terhadap sesuatu hanya bisa dilakukan lewat sudut pandang tertentu dengan konsekwensinya masing-masing. Dalam tulisan ini, saya akan membahas seorang tokoh Kontroversial bernama K.F. Holle (1829-1896) yang bagi sebagian orang merupakan “pahlawan” namun bagi sebagian lainnya merupakan musuh. Adalah cukup penting untuk memahami kedua pandangan tersebut agar sikap terhadap tokoh Holle bisa dilakukan secara lebih berhati-hati. Sebagai referensi terhadap tulisan ini, saya menggunakan  buku “Kawan dalam Pertikaian” karya Karel Steenbrink (Mizan, 1995), “Politik Islam Hindia Belanda” karya H. Aqib Suminto (LP3ES, 1985), dan De Regenten Positie karya R.A.A. Soeria Nata Atmadja (A.C. Nix, 1940).

Karel Frederik Holle tiba ke Hindia Belanda bersama kedua orang tuanya pada usia 14 tahun. Pada tahun 1846 ia mengawali karirnya sebagai pegawai kantor pemerintah hingga sepuluh tahun kemudian mengundurkan diri untuk bisa mengurus perkebunan teh “Waspada” di Garut. Holle…

View original post 772 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s