Indianisasi Indonesia

Berdasarkan sudut pandang geografis, Kepulauan Nusantara terletak pada persilangan strategis di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, bahkan lebih jauh lagi jika ditarik lebih ke belakangnya adalah Benua Afrika dan Benua Amerika. Potensi geografis yang demikian ini, mengakibatkan Kepulauan Nusantara memiliki keanekaragaman hayati flora dan fauna serta manusia dengan budayanya. Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan jika kebudayaan yang berkembang di kepulauan ini selalu mendapat pengaruh dari budaya-budaya besar kawasan lain di sekitarnya, seperti misalnya kawasan India, Timur Tengah, Eropa dan China. Tiga di antara kebudayaan besar tersebut yang pada masa lampau pernah secara dominan mempengaruhi perkembangan kebudayaan di Kepulauan Nusantara (khususnya di Pulau Jawa) adalah Kebudayaan India (Hindu-Budha), Kebudayaan Islam, dan Kebudayaan Eropa.

Pengaruh India diperkirakan mulai masuk di Kepulauan Nusantara, setidaknya sejak awal abad Masehi. Hal tersebut terjadi karena disebabkan oleh proses global yang didukung dengan perkembangan teknologi transportasi pelayaran antar kawasan, serta digunakannya bahasa serumpun yang menjadi lingua-franca (bahasa perantara) bagi komunikasi antar komunitas di Kepulauan Nusantara. Berdasarkan bukti lingustik dapat diketahui bahwa rumpun bahasa Austronesia merupakan bahasa terbesar yang digunakan di lebih dari separuh belahan dunia, dari Madagaskar di pantai barat Afrika hingga Pulau Paskah di Oseania Timur serta dari Formosa dan Hawai’i di Pasifik Utara hingga Selandia Baru di Pasifik Selatan. Rumpun bahasa Austronesia beranggotakan sekitar 1200 bahasa yang berkerabat, serta digunakan oleh lebih dari 270 juta penutur, dengan jumlah penutur terbesar terdiri dari bahasa Melayu-Indonesia, Jawa dan Tagalog. Saat ini, bahasa Austronesia secara mayoritas masih dipergunakan di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Brunei, serta oleh komunitas tertentu di Formosa, Vietnam, Kamboja, Birma dan Pantai Utara Papua (Tryon, 1995: 17-19). Robert Blust (1985) berhasil merekonstruksi kosa kata bahasa  Austronesia yang berhubungan dengan te knologi perkapalan, navigasi, biota serta lingkungan laut yang berumur hingga 3500 SM. Selain itu, dari bukti etnografi juga masih dijumpai beberapa etnis tradisional di Kepulauan Nusantara yang mempertahankan tradisi pelayaran perdagangan jarak jauh antar kawasan, seperti; Sama-Bajau dan Bugis-Makassar (lihat: Sather, 1995).

Perkembangan kedua faktor tersebut (komunikasi dan transportasi) mendorong terjadinya proses global yang diikuti dengan meningkatnya arus pelayaran-perdagangan jarak jauh, sehingga membentuk jaringan antar kawasan yang melibatkan Mediterania, Asia Barat, Sub-Kontinental India, Asia Tenggara Kepulauan, Asia Tenggara Daratan dan Cina. Bukti Arkeologi yang mengindikasikan hal tersebut antara lain  adalah; temuan cengkeh di Terqa, Euphrates Timur Tengah yang berumur 3500 BP (Spriggs, 2000: 69), koin Kekaisaran Romawi Barat Victorinus (268-270 AD) di U-Thong, Thailand Barat (Glover, 1990: 4), bekal kubur koin Cina dan manik-manik Carnelian di Uattamdi, Maluku Utara yang berumur 2300 BP (Bellwood, 2000: 431-432), gerabah Rouletted Indo-Roman di situs Buni (pantai utara Jawa Barat), serta gerabah Arikamedu (Tamil Nadu) dengan aksara Kharoshthi atau  Brahmi di Sembiran dan Pacung (Pantai Utara Bali) dari awal abad Masehi (Ardika dan Bellwood, 1991: 225-226).

Beberapa temuan data arkeologi di atas mengindikasikan adanya interaksi antar kawasan yang letaknya sangat berjauhan, dari Eropa hingga Cina lewat Kepulauan Nusantara. Walaupun hal tersebut tidak secara langsung membuktikan interaksi langsung antar kawasan, namun setidaknya mengindikasikan adanya jaringan lu as yang menghubungkan secara tidak langsung beberapa wilayah di Eropa hingga Cina termasuk Kepulauan Nusantara.

Melalui jaringan pelayaran-perdagangan tersebut, komoditas hasil bumi dari Kepulauan Nusantara mulai diperkenalkan ke dunia barat, seperti; rempah-rempah, fauna eksotis serta berbagai jenis kayu-kayuan yang langka. Sebaliknya, barang-barang bermartabat dari barat, seperti; logam, manik-manik, perhiasan batu hijau (jade) mulai masuk dan digemari di Kepulauan Nusantara. Menurut Tanudirjo (2005), di Kepulauan Nusantara terdapat dua jaringan pelayaran perdagangan yang agak berbeda. Satu jaringan meliputi wilayah Filipina Selatan, Sabah, Sulawesi Utara dan Maluku Utara (mungkin juga Papua Barat), sedangkan jaringan lainnya melibatkan Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan Selatan dan Barat Laut, Jawa, Sunda Kecil, dan mungkin Pantai Selatan Papua Barat. Jaringan yang disebut terakhir inilah yang tampaknya menjadi jalur utama persebaran pengaruh India di Kepulauan Nusantara.

Terbukti, di sepanjang jalur inilah, terutama di Kalimantan Timur, Jawa, Sumatera, dan Bali, pada masa yang lebih kemudian  muncul institusi politik bercorak Hindu-Budha, seperti; Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, Sriwijaya, Kediri, Singasari, Melayu Kuno, dan Majapahit.

Selain diperkenalkannya barang-barang bermartabat dari barat ke Kepulauan Nusantara, melalui jaringan global tersebut juga ditawarkan sumber rujukan pandangan hidup dan identitas baru (Kebudayaan India) yang pada akhirnya diserap oleh komunitas-komunitas tertentu di Kepulauan Nusantara. Pengaruh kebudayaan India di Kepulauan Nusantara (khususnya di Pulau Jawa) yang nampak dalam kehidupan sehari-hari meliputi tiga aspek kebudayaan, antara lain adalah; Religi (Agama Hindu-Budha), Institusi  Politik (Kerajaan) dan Bahasa Sansekerta (yang diserap oleh Bahasa Austronesia) serta Aksara India (Pallawa) yang dimodifikasi menjadi berbagai aksara lokal Nusantara.

Di Jawa, Agama Hindu-Budha dengan berbagai varian sekte-sektenya berkembang sangat pesat terutama di Jawa bagian tengah dan timur, sejak abad V Masehi bahkan hingga masa belakangan ini, yang masih dipertahankan oleh etnis Tengger di dataran tinggi Bromo-Tengger-Semeru. Puncak kejayaan kedua agama tersebut ditandai dengan pendirian monumen-monumen keagamaan yang megah di poros Kedu-Prambanan (Jawa Tengah) pada masa Mataram Kuno abad VIII-X Masehi, dan di lembah sungai Brantas yang subur (Jawa Timur) pada masa Mataram Kuno Jawa Timur hingga Majapahit abad XI-XV Masehi. Pembangunan monumen-monumen keagamaan yang megah tersebut dapat terlaksana berkat dukungan mobilitas kerja yang disponsori institusi politik bercorak Hindu-Budha, sejak jaman Kerajaan Mataram Kuno (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Kediri, Singasari dan Majapahit. Pada saat yang bersamaan, pengaruh Kebudayaan India dalam bidang kesusastraan adalah diperkenalkannya tradisi tulis menggunakan Aksara Pallawa yang kemudian berkembang menjadi Aksara Jawa Kuno, Kediri Kuadrat, hingga Jawa Pertengahan dan Jawa Modern. Selain itu, berbagai kitab-kitab pengetahuan dari India disadur ke dalam bahasa lokal, yang diawali dengan kitab Ramayana serta berbagai kitab Budhis lainnya, sehingga banyak kosa kata dari Bahasa Sansekerta yang diserap dalam Bahasa Jawa Kuno akibat kesulitan pencarian padanannya kata-nya tanpa harus merubah makna asli maupun guna kepentingan legitimasi politik.

Dikutip dari “MELACAK JEJAK AWAL INDIANISASI DI PANTAI UTARA JAWA TENGAH“, Sofwan Noerwidi, http://arkeologika.wordpress.com/2007/10/31/artikel-4/
Tulisan selengkapnya (PDF) bisa didownload di http://arkeologika.wordpress.com/2007/10/31/artikel-4/indianisasi/

Link terkait:
The Spread of Indian Civilization, http://countrystudies.us/indonesia/4.htm
THEORIES OF INDIANIZATION: Exemplified by Selected Case Studies from Indonesia (Insular Southeast Asia) (PDF), http://www.oeaw.ac.at/sozant/files/working_papers/suedostasien/soa001.pdf
Indonesia – The Spread of Indian Civilization, http://www.country-data.com/cgi-bin/query/r-6181.html
A Short History of South East Asia (PDF), http://aero-comlab.stanford.edu/jameson/world_history/A_Short_History_of_South_East_Asia1.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s