Freemasonry di Garut?

Berawal dari pertanyaan seorang kawan di Grup Gosip Garut Facebook tentang asal nama desa ‘Loji’ di Kabupaten Garut. Loji dalam bahasa Indonesia berarti gedung besar, kantor atau benteng kompeni di masa penjajahan Belanda. Tapi selain pengertian umumnya ini, kata ‘loji’ (loge/lodge) ini juga dipergunakan oleh kalangan Freemason, yaitu merujuk tempat pertemuan Masonik diadakan serta istilah kolektif bagi para anggota yang bertemu di tempat tersebut yang juga merupakan unit organisasional dalam Freemasonry. Lalu, dari mana nama kampung Loji berasal? Apakah dari keberadaan Loji Freemason di kampung tersebut pada awalnya, atau bangunan lainnya milik Belanda?

Ossa Santosa, salah satu anggota grup yang mengaku lahir dan besar di Kampung Loji tampaknya punya jawaban afirmatif atas kemungkinan pertama. Menurutnya, di Kampung Loji dulu memang ada empat loji yang memang merupakan bangunan Freemason: 1) Loji kulon/barat di Paminggir, 2) Loji wetan/timur di Gg. Teladan (dekat Cipoon), 3) Loji kaler/utara di Jl. Guntur yang merupakan bagian dari kompleks industri PTG (Pabrik Tenun Garut) yang memiliki bunker dan terowongan bawah tanah yang cukup panjang sekitar 500 meter menembus hingga daerah Padang Boelan atau bangunan rumah Direktur PTG, dan 4) kidul/selatan di Jl. Bank/Panjiwulung, tepatnya di sebrang Masjid Muhammadiyah yang kemudian diduduki TNI dan berubah fungsi menjadi Bengkel Peralatan AD/DenPal. Sayangnya, kini bangunan-bangunan tadi telah dirobohkan, sehingga tidak hanya sekedar beralih fungsi, tetapi juga telah diganti dengan bangunan yang lain dan menjadikan penelusuran lebih lanjut menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Beberapa informasi tambahan atas keterangan Pak Ossa diberikan juga oleh Agi Zap anggota grup lainnya.

Ilustrasi: Terowongan di bawah PTG
Credit: Infodarigarut

Yang menarik, selain eksistensi Freemasonry lebih sering berada di pinggiran dalam catatan sejarah negeri kita, dalam catatan yang sudah berada di pinggiran itu pun (setidaknya merujuk pada catatan Dr. Th. Stevens dan Paul W. van der Veur) Garut tidak terdaftar sebagai kota yang memiliki loji Freemason.

Ketiadaan catatan resmi mengenai loji Freemason di Garut memang tidak serta merta menegasikan keterangan Bapak Ossa Santosa mengenai keberadaan loji-loji Freemason di Garut, karena sebagaimana diungkapkan oleh Van der Veur (1976), sampai dengan akhir abad 19, loji-loji individual merupakan unit-unit yang bersifat otonom dan beroperasi terpisah dari yang lainnya, sehingga memungkinkan adanya sejumlah loji kecil yang tidak tercantum dalam daftarnya.

Tentu saja obrolan ringan di atas belum bisa menguraikan eksistensi loji dan aktivitas Freemason di Garut secara lebih mendalam, tetapi mudah-mudahan saja bisa menjadi catatan rintisan bagi para peminat sejarah dan pemerhati untuk menggali dan mengungkap sepak terjang serta perkembangan Freemasonry di negeri kita, khususnya Garut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s