Machiavellisme dan Judaisme

Tulisan ini merupakan kelanjutan, dari Catatan sebelumnya, Machiavelli: Tujuan Menghalalkan Cara.

Sekedar menyegarkan kembali, “Machiavellisme” merupakan istilah yang merujuk pada pandangan dan perilaku yang dipuji oleh teoritisi dan diplomat politik Florentine Niccolo Machiavelli (1469-1527), terutama yang terangkum dalam karnyanya Sang Penguasa serta The Discourse On Livy. Machiavellisme bertujuan untuk merevisi moralitas politik sehingga tujuan konsolidasi kekuatan politik dalam negara dianggap sebagai kebajikan manusia tertinggi, menggantikan semua nilai-nilai dan batasan-batasan etis lainnya (Steven Marx, 1997), yang diungkapkan melalui aforismanya yang terkenal “tujuan menghalalkan cara”.

Sedangkan istilah ‘Judaisme’ di sini merujuk tidak hanya pada pada sumber-sumber ajaran yang pokok seperti Torah, tetapi juga pemikiran dan tradisi agama Yahudi secara umum.

Menurut Steven Marx, dalam esainya “Moses and Machiavellism”, hubungan antara Judaisme (yang dia atributkan kepada Nabi Musa as.) dan Machiavelli telah dikaji oleh para peneliti Bible maupun teori politik. Bagaimanapun belum ada yang cukup memberi perhatian pada pentingnya hubungan ini ataupun mengeksplorasi lebih jauh signifikansinya bagi pemahaman kedua figur tersebut, hal ini menurutnya mungkin karena Machiavelli tidak pernah memperluas pembahasan atas subjek Biblikal lebih dari dua atau tiga kalimat. Tetapi rujukan-rujukan Machiavelli pada karya-karyanya seringkali menciptakan banyak pola tersembunyi. Begitu besarnya pengaruh Bible Ibrani bagi pemikiran Machiavelli dapat terlihat dengan mengungkap pola-pola tadi, sehingga menurutnya, pemikiran Machiavelli dapat dibaca melalui Bible, demikian pula sebaliknya (filsafat serta doktrin politik) Bible pun dapat dibaca melalui filsafat serta doktrin politik Machiavelli.

Marx tidak sendiri dalam melihat korelasi antara pemikiran politik Machiavelli dengan ajaran-ajaran Yahudi. Michael Ledeen, seorang kontributor Jewish World Review bahkan mencurigai bahwa Machiavelli sebetulnya seorang Yahudi.

Korelasi ini dapat kita lihat lebih jelas lagi jika kita melihat pandangan-pandangan Zionisme yang lebih menempatkan Bible sebagai panduan politik. Masih menurut Marx, Machiavelli merupakan salah seorang yang membaca Bible tidak sebagai wahyu tetapi sebagai teks sekular (duniawi), sebagaimana dia membaca sejarah-sejarah klasik. Tuhan baginya tidak lebih atau kurang nyata dari dewa-dewa Yunani dan Romawi. Pendekatan humanis ini memungkinkannya mengenali fakta-fakta, plot dan karakter dalam Bible mengenai kelahiran bangsa Israel.

Pandangan Machiavelli yang tidak melihat Bible sebagai wahyu ini tampaknya tidak semata-mata karena dia hidup di era ketika Renaissance mulai mekar dan otoritas keagamaan mulai dipertanyakan, tetapi fakta bahwa penulisan Bible Ibrani memang telah begitu banyak dicampuri rekayasa rabbi-rabbi mereka memang bukan lagi rahasia. Karena menurut Hukum Talmud, kata-kata para rabbi dianggap sebagai kata-kata Tuhan. Bahkan sebagaimana diungkapkan Ivan Fraser, Talmud menyatakan bahwa para rabbi adalah penasehat Yahweh tatkala Dia ragu: “Jehovah sendiri di surga mempelajari Talmud, berdiri; seakan Dia sangat menghormati kitab tersebut.” (Tr. Mechilla) “Ajaran Talmud berada di atas hukum-hukum lainnya. Ajaran ini lebih penting daripada hukum-hukum Musa ” (Miszna, Sanhedryn XI, 3).

Melihat begitu besarnya pengaruh ajaran-ajaran Judaisme atas pembentukan filsafat serta doktrin politik Machiavellisme; bagaimana uraian, plot serta karakter-karakter yang ditampilkan dalam Bible untuk membangun negara Israel menjadi rujukan Machiavelli dalam merumuskan pemikiran politiknya, tidak heran jika pada gilirannya Machiavellisme pun menjadi panduan bagi kehidupan politik bangsa Yahudi hari ini, terutama bagi Zionisme yang menjadi ujung tombak mereka dalam mewujudkan Negara Israel Raya di abad modern. Dalam sebuah artikel pada situs berita The Times of Israel, Donna Robinson Divine, seorang Professor Studi Yahudi dan Pemerintahan, dengan cermat melihat bagaimana Machiavellisme bekerja dalam pemerintahan Zionis Israel hari ini, bahkan menggelari Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, sebagai “Machiavelli’s new prince”, pangeran barunya Machiavelli.

Dari sedikit catatan di atas, maka secara sepintas mungkin kita juga bisa menyatakan, bahwa Machiavellisme pada dasarnya merupakan bagian dari Judaisme itu sendiri. Jika Machiavellisme masih berupa teori atau gagasan, maka kita bisa menemukannya materialisasinya dalam Zionisme.

Uraian dan pembahasan lebih lengkap mengenai tema ini bisa anda pelajari langsung dari sumber-sumber berikut ini:

Steven Marx, Moses and Machiavellism, http://cla.calpoly.edu/~smarx/Publications/moses.html
Michael Ledeen, What Machiavelli (A Secret Jew?) Learned From Moses, http://www.jewishworldreview.com/0699/machiavelli1.asp
Ivan Fraser, The Protocols of the Learned Elders of Zion: Proof of an Ancient Conspiracy, http://www.biblebelievers.org.au/proof.htm
Donna Robinson Divine, Benjamin Netanyahu: Machiavelli’s new prince, http://blogs.timesofisrael.com/benjamin-netanyahu-machiavellis-new-prince/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s